Banyak artikel yang mengupas tentang manfaat hubungan pasutri bagi kesehatan antara lain, menurunkan tingkat stres, meningkatkan daya tahan tubuh, membantu menurunkan berat badan, meningkatkan kesehatan jantung, meningkatkan rasa percaya diri, mengurangi resiko kanker prostat, menurunkan tingkat kematian, meningkatkan kualitas tidur, meningkatkan kesehatan kulit dll.

Anehnya, meskipun banyak manfaat yang dapat diperoleh dari hubungan seks, namun tidak menjamin frekuensi hubungan pasangan suami istri akan meningkat setiap bulannya.

Hal tersebut dapat disebabkan oleh berbagai hal :

  1. Konflik yang terus menerus karena perbedaan pendapat
  2. Masalah terkait sumber keuangan, penggunaan dan pertanggung jawaban
  3. Kehilangan rasa hormat terhadap pasangan
  4. Tidak menghargai pasangan
  5. Hambatan dalam berkomunikasi
  6. Suka memaksakan kehendak
  7. Bersikap apatis
  8. Cemburu yang berlebihan, dll

Dari pengalaman membantu pasangan suami istri, kami mengidentifikasi adanya beberapa kesamaan pola pada hambatan seks pasutri antara lain (perlu diteliti lebih lanjut) :

  1. Inisiatif terjadinya suatu hubungan seks pasutri, kebanyakan dimulai dari pihak pria
  2. Ketidak mampuan pihak wanita dalam mengekspresikan kesenangan yang dirasakan ataupun posisi yang diinginkan
  3. Pihak wanita berpura pura puas dan pihak pria yang terlalu cepat selesai
  4. Seks hanya dijalankan sebagai sebuah kewajiban suami istri
  5. Seks dijadikan simbol dominasi atas pasangannya
  6. Seks hanya sebagai alat untuk meningkatkan posisi tawar atau sanksi
  7. Seks hanya dijadikan sebagai alat untuk menebus rasa bersalah pasca konflik
  8. Seks sebagai kamuflase atas perselingkuhan ataupun penyimpangan seksual

Bagaimana jika dengan memahami ulang makna seks bagi pasangan suami istri, tujuan pernikahan yang sakinah, mawaddah dan warohmah dapat kembali di rajut, mau ?

Ingin kembali bergairah ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Tertangkapnya kembali artis Fari* RM pada kasus narkoba, menambah panjang daftar artis yang berulangkali terjerat pada kasus yang sama.

Sebut saja artis lainnya seperti Ibr* Azhar*, Ro* Marte*, Revald*, Pol* Srimula*, Doyo* dan banyak lagi arti lainnya. Hal ini tentunya sangat memprihatinkan, mengingat mereka dulunya adalah orang orang yang berprestasi dan menjadi model bagi penggemarnya.

Lalu mengapa mereka “jatuh” kembali pada lubang yang sama ? Adakah yang salah dengan pola penanganan baik hukum, sosial maupun rehabilitasi ?

Mereka adalah tipe orang orang yang bekerja di dua ekstrim. Di saat jaya, mereka adalah “subjek” sebagai pekerja aktif, memiliki pengaruh, banyak uang, banyak teman dsb., namun pada yang sama mereka adalah “objek” dengan jadwal padat, pola tidur dan makan tidak teratur, komunikasi keluarga berkurang dll.

Tekanan pekerjaan yang sangat tinggi inilah yang membuat mereka menjadi sangat rentan terhadap sumber rasa nyaman yang semu seperti alkohol, obat obatan, seks, judi dll., hal tersebut akibat adanya kebutuhan bawah sadar untuk menurunkan ketegangan.

Ironisnya, seiring dengan mulai memudarnya popularitas, berkurangnya penghasilan mereka apalagi jika disertai masalah keluarga, dapat semakin meningkatkan kecemasan mereka dan ini berarti pula semakin meningkatkan kebutuhan mereka akan rasa nyaman.

Klimaksnya, saat mereka tertangkap menggunakan barang haram inilah yang membuat semuanya menjadi terbalik, seperti rasa bersalah kepada keluarga atau penggemar, rasa marah diri sendiri dan ini tentu saja semakin menempatkan diri mereka dalam posisi objek (baca : pesakitan).

Selanjutnya, pola penanganan hukum, sosial ataupun rehabilitasi yang tidak tepat, dapat pula membuat ybs. semakin terpuruk karena semakin menurunkan harga diri (self esteem) mereka. Tidak heran jika mereka mudah terjatuh kembali pada lubang yang sama.

Bagaimana jika dengan hukuman rehabilitasi, disertai hukuman kerja sosial seperti menjadi pengajar/mentor musik, pelawak, akting dsb. dapat semakin mempercepat proses penemuan kembali jati diri mereka ?

Ingin kembali berguna ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Trauma Visual ?

27/11/2014

Pernahkah Anda melihat postingan foto menakutkan atau sadis di media sosial ?

Lalu Anda diminta untuk mengatakan “amin” dengan cara memberi tanda “like” atau meneruskan pesan tersebut ke handai tolan Anda dan jika hal tersebut tidak Anda lakukan maka Anda dianggap tidak memiliki nurani bahkan dianggap tidak bermoral.

Tahukah Anda bahwa foto sadis tersebut dapat menimbulkan trauma visual sehingga akan selalu terbayang bayang, bagi siapapun yang melihatnya ?

Bagaimana jika pesan berantai tersebut dimaksudkan untuk tujuan tertentu yang menyesatkan, propaganda terselubung misalnya ? Lalu bagaimana kita harus mensikapinya ?

Rumusnya sederhana, sebuah perbuatan, dapat disebut sebagai perbuatan baik, hanya jika dilakukan dengan cara cara yang baik pula.

Jika demikian, apakah tindakan meneruskan foto tersebut masih dapat disebut sebagai tindakan bermoral atau justru sebaliknya ?

Ingin bebas trauma ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Lebih Baik Mana ?

30/10/2014

Sudah pernah lihat sebuah foto di Twitter yang coba membandingkan antara Susi Pudjiastuti, menteri Kelautan dan Perikanan dengan Ratu Atut Chosiyah, mantan Gubernur Banten ?

Pada etiket foto tersebut, figur Susi Pudjiastuti ditulis sebagai perokok, bertato, 2 kali kawin cerai, bergajulan, tidak berjilbab, tidak lulus SMA sedang figur Ratu Atut Chosiyah ditulis sebagai tak merokok, tak bertato, tak kawin cerai, santun, berjilbab, pendidikan tinggi.

Kita tidak tau apa yang menjadi motivasi si “pembanding”, apakah karena ybs. merasa sosok dirinya terwakili dalam figur seorang Susi Pudjiastuti ataukah karena menganggap seseorang yang tidak merokok, tidak bertato, tidak kawin cerai, santun, berjilbab, pendidikan tinggi adalah sebuah perilaku yang buruk ?

Mungkin saking bersemangatnya, ybs. lupa membandingkan “berapa persen dari orang yang merokok, bertato, kawin cerai, begajulan, tidak berjilbab, tidak lulus SMA” yang berhasil seperti ibu Susi Pudjiastuti dan lupa membandingkan “berapa persen dari orang yang tidak merokok, tidak bertato, tidak kawin cerai, santun, berjilbab, berpendidikan tinggi” yang melakukan tindakan tercela.

Bagaimana jika dengan meminjam cara berfikir seorang Buya Hamka, kita tidak lagi menilai seseorang secara subjektif, apalagi menggeneralisir secara membabi buta ?

Sehingga kita semua akan berkata :”Wow, seorang Susi Pudjiastuti yang perokok, bertato, 2 kali kawin cerai, bergajulan, tidak berjilbab, tidak lulus SMA saja berprestasi luar biasa seperti itu, bagaimana kalau ybs. tidak merokok, tidak bertato, tidak kawin cerai, santun, berjilbab, berpendidikan tinggi pasti bisa lebih hebat dari itu.”

Ingin hidup lebih berguna ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Psikis ?

17/10/2014

Meski subjeknya sama yaitu “psikis” manusia, namun bisa menghasilkan cabang keilmuan yang berbeda.

Dalam konteks psikologi kepribadian, psikis seseorang didekati melalui interaksinya dengan stimulus eksternal seperti pola asuh, pendidikan, informasi, pengalaman dll., sehingga berdampak pada persepsi, perhatian, emosi, motivasi, kepribadian, perilaku dan hubungan interpersonal ybs.

Di sisi lain, dalam konteks medis, psikis seseorang didekati melalui interaksinya dengan stimulus internal seperti obat obatan yang dapat mempengaruhi fungsi fungsi psikis dan mental tertentu (psikofarmaka) dan jika perlu dibantu dengan electro shock.

Pada kasus kasus gangguan kepribadian, terapi dapat dilakukan menggunakan psikoterapi, psikofarmaka ataupun kombinasi dari keduanya, tergantung dari seberapa besar motivasi, tingkat kesadaran ataupun kesiapan berubah dari dalam diri ybs.

Untuk kasus kasus, cidera otak, penurunan fungsi (degeneratif), kelainan genetik, keracunan, terapi psikofarmaka menjadi pilihan penting karena biasanya mesin “autoreverse” sudah tidak bekerja optimal.

Sebaliknya pada kasus kasus penggunaan obat yang tidak tepat sasaran atau “oversubscribed” misal : overdosis, penyalah-gunaan obat, salah diagnosa dsb. berpotensi “melumpuhkan” mesin autoreverse yang bisa jadi masih berfungsi normal.

Jadi letak persoalannya bukan pada pilihan mana yang lebih baik, antara psikoterapi ataukah psikofarmaka ? Melainkan lebih kepada “timing” mana yang lebih tepat.

Ingin menghilangkan hambatan pribadi ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Meskipun kenyataannya bermasalah, tidak ada seorangpun suka ditempatkan di posisi bermasalah (objek).

Saat Anda berfikir anggota keluarga memiliki masalah psikis dan mengajaknya untuk meminta bantuan profesional, secara alami mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) ybs. akan menjadi aktif, guna mengurangi kecemasan yang timbul akibat “vonis” dan mengubahnya menjadi perasaan tidak terancam.

Agar tujuan mengajak anggota keluarga mengikuti sesi terapi tercapai, cara paling mudah adalah dengan membalik posisi yaitu menempatkan diri Anda di posisi yang bermasalah sambil meminta ybs. menemani terapi dan katakan “Sepertinya saya deh yang bermasalah, saya ingin mengikuti sesi terapi. Yuk temani saya, barangkali kamu (pasangan/anak) bisa memberi masukan ke terapis kira kira apa yang harus saya lakukan agar berubah!”

Suka atau tidak suka, bisa jadi dalam persepsi ybs. diri kitalah yang bermasalah dan tawaran bijak Anda ini tentunya akan mendorong ybs. dengan sukarela mengungkapkan semua uneg unegnya ke terapis.

Lalu apakah strategi ini tidak beresiko membuat Anda kehilangan rasa hormat dari pasangan atau anak Anda ?

Jawabannya adalah tidak beresiko karena biasanya terapis tau persis, bagaimana menjelaskan posisi Anda kepada pasangan atau anak Anda bahwa tujuan Anda selalu baik, meskipun terkadang dilakukan dengan cara yang kurang pas.

Ingin keluarga berubah ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Kecuali susah tidur yang disebabkan oleh gangguan medis, kebanyakan insomnia lebih disebabkan oleh gangguan psikis.

Hal tersebut dapat dipicu oleh situasi ekstrim seperti tekanan pekerjaan, masalah keluarga, pasca sakit, pemutusan hubungan kerja (PHK), kehilangan orang yang dicintai, terjerat kasus hukum, konflik tetangga dsb.

Adapun pengobatannya dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pengobatan simptomatik dan pengobatan kausal. Pengobatan simptomatik ditujukan pada mengobati gejala atau akibat yang ditimbulkan berupa perasaan negatif seperti cemas, takut, panik, gelisah, biasanya menggunakan obat obatan ataupun suplemen. Sedang pengobatan kausal ditujukan pada menemukan akar masalah atau penyebab timbulnya gangguan psikis, biasanya menggunakan psikoterapi atau hipnoterapi.

Dalam keadaan darurat, pengobatan simptomatik dapat membantu meringankan keluhan ybs., namun jika akar masalah yang menjadi penyebab susah tidur tidak turut dihilangkan, maka pengobatan simptomatik bersifat sementara, bahkan dalam jangka panjang dapat menimbulkan masalah baru berupa ketergantungan obat akibat adanya efek toleransi dari penggunaan obat.

Ibarat kaki yang tertusuk duri, susah tidur hanyalah akibat dari adanya penyebab insomnia (khususnya insomnia yang disebabkan oleh gangguan psikis) sehingga dalam mengobatinya kita memiliki dua pilihan : apakah akibatnya yang diobati (rasa nyerinya atau perasaan negatifnya) ataukah sebabnya yang diatasi (mencabut durinya atau membuang penyebab cemasnya).

Pilihan selanjutnya terserah Anda !

Ingin mudah tidur ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 480 pengikut lainnya.