Lebih Baik Mana ?

30/10/2014

Sudah pernah lihat sebuah foto di Twitter yang coba membandingkan antara Susi Pudjiastuti, menteri Kelautan dan Perikanan dengan Ratu Atut Chosiyah, mantan Gubernur Banten ?

Pada etiket foto tersebut, figur Susi Pudjiastuti ditulis sebagai perokok, bertato, 2 kali kawin cerai, bergajulan, tidak berjilbab, tidak lulus SMA sedang figur Ratu Atut Chosiyah ditulis sebagai tak merokok, tak bertato, tak kawin cerai, santun, berjilbab, pendidikan tinggi.

Kita tidak tau apa yang menjadi motivasi si “pembanding”, apakah karena ybs. merasa sosok dirinya terwakili dalam figur seorang Susi Pudjiastuti ataukah karena menganggap seseorang yang tidak merokok, tidak bertato, tidak kawin cerai, santun, berjilbab, pendidikan tinggi adalah sebuah perilaku yang buruk ?

Mungkin saking bersemangatnya, ybs. lupa membandingkan “berapa persen dari orang yang merokok, bertato, kawin cerai, begajulan, tidak berjilbab, tidak lulus SMA” yang berhasil seperti ibu Susi Pudjiastuti dan lupa membandingkan “berapa persen dari orang yang tidak merokok, tidak bertato, tidak kawin cerai, santun, berjilbab, berpendidikan tinggi” yang melakukan tindakan tercela.

Bagaimana jika dengan meminjam cara berfikir seorang Buya Hamka, kita tidak lagi menilai seseorang secara subjektif, apalagi menggeneralisir secara membabi buta ?

Sehingga kita semua akan berkata :”Wow, seorang Susi Pudjiastuti yang perokok, bertato, 2 kali kawin cerai, bergajulan, tidak berjilbab, tidak lulus SMA saja berprestasi luar biasa seperti itu, bagaimana kalau ybs. tidak merokok, tidak bertato, tidak kawin cerai, santun, berjilbab, berpendidikan tinggi pasti bisa lebih hebat dari itu.”

Ingin hidup lebih berguna ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Psikis ?

17/10/2014

Meski subjeknya sama yaitu “psikis” manusia, namun bisa menghasilkan cabang keilmuan yang berbeda.

Dalam konteks psikologi kepribadian, psikis seseorang didekati melalui interaksinya dengan stimulus eksternal seperti pola asuh, pendidikan, informasi, pengalaman dll., sehingga berdampak pada persepsi, perhatian, emosi, motivasi, kepribadian, perilaku dan hubungan interpersonal ybs.

Di sisi lain, dalam konteks medis, psikis seseorang didekati melalui interaksinya dengan stimulus internal seperti obat obatan yang dapat mempengaruhi fungsi fungsi psikis dan mental tertentu (psikofarmaka) dan jika perlu dibantu dengan electro shock.

Pada kasus kasus gangguan kepribadian, terapi dapat dilakukan menggunakan psikoterapi, psikofarmaka ataupun kombinasi dari keduanya, tergantung dari seberapa besar motivasi, tingkat kesadaran ataupun kesiapan berubah dari dalam diri ybs.

Untuk kasus kasus, cidera otak, penurunan fungsi (degeneratif), kelainan genetik, keracunan, terapi psikofarmaka menjadi pilihan penting karena biasanya mesin “autoreverse” sudah tidak bekerja optimal.

Sebaliknya pada kasus kasus penggunaan obat yang tidak tepat sasaran atau “oversubscribed” misal : overdosis, penyalah-gunaan obat, salah diagnosa dsb. berpotensi “melumpuhkan” mesin autoreverse yang bisa jadi masih berfungsi normal.

Jadi letak persoalannya bukan pada pilihan mana yang lebih baik, antara psikoterapi ataukah psikofarmaka ? Melainkan lebih kepada “timing” mana yang lebih tepat.

Ingin menghilangkan hambatan pribadi ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Meskipun kenyataannya bermasalah, tidak ada seorangpun suka ditempatkan di posisi bermasalah (objek).

Saat Anda berfikir anggota keluarga memiliki masalah psikis dan mengajaknya untuk meminta bantuan profesional, secara alami mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) ybs. akan menjadi aktif, guna mengurangi kecemasan yang timbul akibat “vonis” dan mengubahnya menjadi perasaan tidak terancam.

Agar tujuan mengajak anggota keluarga mengikuti sesi terapi tercapai, cara paling mudah adalah dengan membalik posisi yaitu menempatkan diri Anda di posisi yang bermasalah sambil meminta ybs. menemani terapi dan katakan “Sepertinya saya deh yang bermasalah, saya ingin mengikuti sesi terapi. Yuk temani saya, barangkali kamu (pasangan/anak) bisa memberi masukan ke terapis kira kira apa yang harus saya lakukan agar berubah!”

Suka atau tidak suka, bisa jadi dalam persepsi ybs. diri kitalah yang bermasalah dan tawaran bijak Anda ini tentunya akan mendorong ybs. dengan sukarela mengungkapkan semua uneg unegnya ke terapis.

Lalu apakah strategi ini tidak beresiko membuat Anda kehilangan rasa hormat dari pasangan atau anak Anda ?

Jawabannya adalah tidak beresiko karena biasanya terapis tau persis, bagaimana menjelaskan posisi Anda kepada pasangan atau anak Anda bahwa tujuan Anda selalu baik, meskipun terkadang dilakukan dengan cara yang kurang pas.

Ingin keluarga berubah ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Kecuali susah tidur yang disebabkan oleh gangguan medis, kebanyakan insomnia lebih disebabkan oleh gangguan psikis.

Hal tersebut dapat dipicu oleh situasi ekstrim seperti tekanan pekerjaan, masalah keluarga, pasca sakit, pemutusan hubungan kerja (PHK), kehilangan orang yang dicintai, terjerat kasus hukum, konflik tetangga dsb.

Adapun pengobatannya dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pengobatan simptomatik dan pengobatan kausal. Pengobatan simptomatik ditujukan pada mengobati gejala atau akibat yang ditimbulkan berupa perasaan negatif seperti cemas, takut, panik, gelisah, biasanya menggunakan obat obatan ataupun suplemen. Sedang pengobatan kausal ditujukan pada menemukan akar masalah atau penyebab timbulnya gangguan psikis, biasanya menggunakan psikoterapi atau hipnoterapi.

Dalam keadaan darurat, pengobatan simptomatik dapat membantu meringankan keluhan ybs., namun jika akar masalah yang menjadi penyebab susah tidur tidak turut dihilangkan, maka pengobatan simptomatik bersifat sementara, bahkan dalam jangka panjang dapat menimbulkan masalah baru berupa ketergantungan obat akibat adanya efek toleransi dari penggunaan obat.

Ibarat kaki yang tertusuk duri, susah tidur hanyalah akibat dari adanya penyebab insomnia (khususnya insomnia yang disebabkan oleh gangguan psikis) sehingga dalam mengobatinya kita memiliki dua pilihan : apakah akibatnya yang diobati (rasa nyerinya atau perasaan negatifnya) ataukah sebabnya yang diatasi (mencabut durinya atau membuang penyebab cemasnya).

Pilihan selanjutnya terserah Anda !

Ingin mudah tidur ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Meski terkesan sepele, tiga kata “maaf”, “tolong” dan “terima kasih” adalah tiga kata sakti dalam kehidupan.

Adapun penerapannya, biasanya dikaitkan dalam konteks sosial. Ketiga kata sakti tadi dapat dijadikan jembatan komunikasi yang sangat efektif dengan pihak lain.

Ketiga kata sakti tadi dapat menembus mekanisme pertahanan diri pihak lain, khususnya pihak asing yang baru dikenal. Dalam konteks budaya, ketiga kata sakti tadi dapat dijadikan indikator apakah seseorang berpendidikan atau tidak, bahkan lebih jauh lagi dapat digunakan untuk menilai kualitas kepribadian orang-tua ybs.

Meski ketiga kata tersebut dapat diucapkan oleh siapa saja, kapan saja dan untuk tujuan tertentu, namun yang membedakannya terletak pada “ketulusannya”.

Seseorang yang telah dididik untuk mengucapkan ketiga kata sakti tersebut sejak kecil, biasanya akan terasa lebih spontan, lebih tulus dan lebih ramah.

Ketiga kata sakti inilah yang kelak dikemudian hari dapat membuat seseorang lebih dihargai, dihormati dan disegani oleh pihak lain.

Ingin menjadi pribadi yang sopan ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Group Keluarga ?

30/09/2014

Entah disadari atau tidak, beban kehidupan yang semakin kompleks membuat “ruang” komunikasi antar bapak, ibu dan anak menjadi semakin “mewah”.

Hal tersebut dikarenakan masing masing pihak terjebak pada aktivitas rutin yang melelahkan seperti mencari nafkah pada bapak dan tidak jarang juga ibu, urusan rumah tangga dan aktifitas sekolah pada anak.

Akibatnya suasana komunikasi menjadi tidak “cair”, berjarak, transaksional, terburu buru dsb. dan ini tentu saja berpotensi menimbulkan salah faham dan lebih buruk lagi jika terjadi konflik.

Padahal apapun bentuk konflik yang tidak diselesaikan pada kesempatan pertama dapat menimbulkan “luka” di salah satu pihak sehingga menghilangkan rasa hormat, kepercayaan, kepedulian pada pihak lain.

Kita dapat membayangkan kira kira apa yang akan dirasakan oleh masing masing pihak, jika keluarga yang seharusnya menjadi sumber nyaman bagi satu sama lain, berubah menjadi sumber stress bagi satu sama lain ?

Apakah kita harus menunggu menunggu sampai terjadi kegagalan komunikasi seperti anak mogok sekolah, kasus narkoba, perselingkuhan dsb., baru kita bersedia berubah ?

Untungnya saat ini sudah ada fasilitas media sosial seperti Fb, BBM, WA dsb. yang bisa jadi dulunya baru dimanfaatkan sebatas rekreasi sosial seperti nostalgia masa sekolah, mencari daftar mantan, grup main, grup hobi, chatting dsb.

Sudahkah Anda memiliki BBM atau WA keluarga ? Bagaimana jika dengan membuat BBM atau WA keluarga, Anda justru kembali memiliki “ruang” komunikasi antar keluarga ?

Ingin memiliki keluarga harmonis ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Barangkali kita sering dibingungkan oleh perkataan orang sukses “Hidup itu, jangan cepat berpuas diri.”

Di sisi lain, kita juga sering mendengar nasihat “Kita harus selalu bersyukur atas apapun yang Allah Swt. berikan kepada kita!”

Sepintas, kedua nasihat tersebut seolah bertentangan, namun sesungguhnya kedua nasihat tersebut merupakan dua nasihat yang berbeda dan diterapkan dalam dua konteks yang berbeda pula.

Nasihat pertama menekankan tentang pentingnya kita terus menerus meningkatkan kompetensi seperti menambah ilmu pengetahuan, pendidikan, keterampilan, pengalaman, pertemanan dsb. sehingga dikemudian hari akan memudahkan diri kita dalam menghadapi persaingan kerja ataupun usaha.

Sedang nasihat kedua menekankan tentang betapa pentingnya kita menerima atas apapun hasil yang Allah Swt. berikan, karena didalamnya terdapat jerih payah, pengorbanan, usaha, pikiran, doa kita yang harus kita hargai.

Bahwasanya hasil yang diraih belum sesuai dengan apa yang kita harapkan, hal tersebut menjadi indikator untuk kita segera mengubah cara, mengubah strategi, mengubah rencana, mengubah kebiasaan dsb. guna penyempurnaan ke depan.

Ingin selalu sukses ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 433 pengikut lainnya.