Penganiayaan Anak ?

09/07/2015

Tingginya kasus penganiayaan ataupun penelantaran anak dapat dijadikan indikasi rapuhnya lembaga perkawinan sebagai sebuah lembaga pelahir generasi unggul (perlu diteliti lebih lanjut).

Padahal dari kelahiran generasi yang bebas trauma inilah kita bisa berharap banyak memiliki generasi penerus yang sehat, cerdas, produktif dan bahagia.

Sayangnya, keterampilan dalam mengasuh anak (parenting skills), keterampilan hidup (life skills), keterampilan memecahkan masalah (problem solving skills)  belum terintegrasi dalam sistem pendidikan dan kesehatan nasional sehingga kebanyakan pasangan muda belum memiliki persiapan saat masalah keluarga tiba.

Akibatnya mudah ditebak, mereka cenderung tanpa sadar kembali menggunakan pola asuh yang pernah mereka kenal, persis seperti cara cara orang tua mereka dulu membesarkan dirinya, padahal situasinya sudah tentu sangat jauh berbeda.

Untuk itu sebelum menikah, pastikan Anda menyadari adanya dua hal yang dapat mengancam kesehatan emosi calon putra putri Anda yaitu hambatan pribadi, hambatan yang dimiliki oleh masing masing pasangan seperti gangguan kecemasan, mudah panik, takut, depresi, malas, kebiasaan buruk, kecanduan dsb. serta hambatan komunikasi, hambatan yang timbul saat perbedaan sifat / karakter dipadukan dalam sebuah lembaga perkawinan.

Ingin bebas penganiayaan anak ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Meski beberapa “ilmuwan” seperti Magnus Hirscheld (1899), Dr.Michael Bailey dan Dr.Richard Pillard (1991), Dean Hamer (1993) meyakini bahwa homoseksual diturunkan secara genetik, namun gen pembawa sifat tsb. tidak berhasil ditemukan.

Bahkan dalam penyataannya, Hamer akhirnya mengakui bahwa risetnya gagal memberi petunjuk bahwa homoseksual disebabkan oleh bawaan :

“Kami menerima bahwa lingkungan mempunyai peranan membentuk orientasi seksual … Homoseksualitas secara murni bukan karena genetika. Faktor-faktor lingkungan berperan. Tidak ada satu gen yang berkuasa yang menyebabkan seseorang menjadi gay … kita tidak akan dapat memprediksi siapa yang akan menjadi gay.”

Begitu pula dengan riset susulan yang dilakukan oleh Prof. George Rice (1999) dari Universitas Western Ontario, Kanada, Prof Alan Sanders dari Universitas Chicago akhirnya meruntuhkan mitos bahwa terlahir menjadi gay adalah “takdir”.

Lalu hal apa saja yang dapat menyebabkan seseorang memiliki orientasi seks sejenis ?

Dari berbagai studi literatur dan pengalaman kami sebagai terapis masalah orientasi seksual, diidentifikasi beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang memiliki orientasi sejenis, antara lain :

  1. Pola asuh yang keliru, orang tua gagal memperkenalkan pendidikan seks sejak dini kepada buah hatinya dan merasa risi atau tabu jika harus membicarakannya
  2. Trauma pelecehan seksual, biasanya dilakukan oleh orang orang terdekat dan dipercaya seperti sepupu, teman main, teman sekolah, pengasuh, supir, penjaga sekolah bahkan guru hingga pemimpin agama
  3. Dimanipulasi secara seksual, adanya kebutuhan diterima secara sosial
  4. Salah bergaul, berada pada waktu, tempat dan teman yang salah
  5. Iseng, tidak adanya tujuan hidup, sehingga melakukan tindakan iseng, mencoba-coba hal baru yang tidak penting.
  6.  Motif ekonomi, terjadinya pertukaran atau barter dengan imbalan seks tertentu, ingin memiliki barang bagus
  7. Informasi seks yang keliru, membanjirnya tulisan, foto, film tentang seks dari sumber sumber yang tidak kredibel seperti media sosial, HP, internet dsb.
  8. Kecewa pada lawan jenis, putus asa terhadap lawan jenis akibat berkali kali gagal dalam menjalin hubungan lalu mengalihkannya kepada sejenis, dll.

Ref : http://iwanyuliyanto.co/2013/12/08/runtuhnya-teori-gen-gay/

Ingin kembali menjadi heteroseksual ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Kecanduan Selfie ?

19/06/2015

Meski tidak berurusan dengan orang lain, tindakan selfie berpotensi merugikan diri sendiri, bahkan American Psychiatric Association (APA) telah mengkonfirmasikan secara resmi, tindakan selfies termasuk kedalam kategori gangguan mental.

Sebagai sebuah gangguan mental, perilaku selfie itu sendiri bukanlah sesuatu yang baru. Dalam Islam, hal tersebut telah banyak dijabarkan dan dikategorikan sebagai sifat tercela seperti dorongan ingin pamer (riya), dorongan mengagumi diri sendiri (ujub) dsb.

Lalu kenapa seseorang terdorong untuk melakukan selfie dan tidak jarang berubah menjadi kecanduan selfie kronis ?

Coba dirasakan kembali, saat kita sedang difoto oleh teman atau fotografer, sensasi apa yang kita rasakan ? Kecuali Anda seorang foto model, adakah muncul perasaan kikuk, salah tingkah ataupun tidak nyaman ?

Ya, itulah “penolakan” bawah sadar yang muncul secara alami, saat seseorang ditempatkan diposisi korban (objek). Namun oleh tindakan selfie, “penolakan” tersebut justru diubah menjadi sesuatu yang diinginkan. Itu sebabnya, tidak heran jika ybs. semakin lama semakin menjadi kecanduan selfie.

Pada skala yang tidak terkendali, kecanduan selfie dapat membuat seseorang menjadi semakin tidak peduli terhadap bahaya seperti selfie di rel kereta, selfie di pinggir jurang dsb. atau semakin tidak sadar resiko dimanipulasi seperti selfie pornografi atau porno-aksi.

Ingin bebas kecanduan selfie ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Saat marah, hindari 7 hal yang dapat merugikan kita :

  1. Jangan mengeluh atau curhat. Meski memberikan perasaan lega sesaat, mengeluh dapat membuat kita menjadi semakin lemah. Jauh lebih pasti membicarakan masalah langsung dengan pihak terkait daripada mengeluh atau curhat ke pihak lain, kecuali untuk tujuan mediasi.
  2. Jangan menulis di media sosial. Sama seperti poin pertama, rasa kesal sebaiknya tidak diumbar melalui media sosial. Selain menimbulkan kesan negatif, hal tersebut dapat disalah gunakan oleh pihak lain ataupun meninggalkan “jejak” hukum.
  3. Jangan memarahi anak. Dalam keadaan emosi, kita biasanya menjadi tidak proporsional sehingga berpotensi menghukum anak melampaui kadar dari yang seharusnya dan ini tentu saja dapat menimbulkan trauma psikis.
  4. Jangan berkendara. Marah saat berkendara tidak hanya dapat mencelakakan diri sendiri, namun juga dapat membahayakan orang lain.
  5. Jangan berhenti kerja. Kita menjadi tidak sadar apakah keputusan berhenti dari pekerjaan betul betul objektif atau hanya sekedar melampiaskan kekesalan sesaat.
  6. Jangan minta bercerai. Sadarkah, perceraian dapat menimbulkan dampak psikis bagi buah hati kita ? Khusus bagi yang beragama Islam, sekalipun dalam keadaan marah, keputusan untuk bercerai dapat menyebabkan jatuhnya talak.
  7. Jangan berhubungan intim. Hubungan intim sehabis bertengkar sangat tidak disarankan, kecuali jika substansi konflik telah diselesaikan terlebih dahulu. Hal tersebut dapat menjadi dorongan “memelihara” konflik, agar bisa nikmat saat berhubungan intim.

Ingin mengendalikan amarah ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

DISCLAIMER : Kisah nyata berikut ini tidak dimaksudkan sebagai jaminan bahwa hasil terapi yang dicapai akan sama pada setiap orang, karena setiap kasus bersifat individu, tergantung dari kesediaan klien untuk berubah dan seberapa cepat akar masalah ditemukan !

Alhamdulillah senang sekali saya hari ini, saat menerima laporan dari klien bahwa ybs. tidak lagi mengalami sakau (withdrawal effect) dan kejang, saat berangsur angsur menghentikan penggunaan obat-obatan psikis.

Hal ini menjadi jawaban bagi para pecandu obat-obatan ataupun junkies bahwa kecanduan obat-obatan dapat diatasi tanpa harus melalui “kesakitan” yang hebat (sakau), jika dilakukan dengan cara yang benar dan oleh profesional.

Agar proses detoksifikasi berjalan dengan aman dan terkendali, maka urut-urutan yang harus dilalui sebagai berikut :

  1. Putuskan untuk menghentikan ketergantungan pada obat secara bertahap dan dibawah supervisi profesional
  2. Jika masih remaja dan masih bergantung kepada orang tua, berterus teranglah kepada mereka agar mendapatkan dukungan moril dan finansial
  3. Berobatlah  ke dokter, psikiater, puskesmas, rumah sakit, dan atau lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial yang ditunjuk Pemerintah guna mendapatkan obat pengganti (substitusi) secara resmi.
  4. Agar terlindung dari masalah hukum selama masa rehabilitasi, mintalah kartu lapor diri kepada institusi penerima wajib lapor (PP 25-2011 : Ps. 10, ayat 1)
  5. Untuk mengendalikan efek sakau selama proses detoksifikasi ataupun efek relapse pasca rehabilitasi, lengkapi dengan terapi SERVO ! Catatan : Terapi SERVO hanya merupakan terapi pendukung atas terapi yang dilakukan oleh psikiater dan tidak dimaksudkan sebagai pengganti peran psikiater.

Ingin mengendalikan efek sakau ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Perlukah Marah ?

17/04/2015

Memendam perasaan atau menahan diri untuk tidak marah, sepintas berguna, kita menjadi tidak perlu berkonflik, tidak dimusuhi dan tidak kehilangan teman.

Apakah hal tersebut dapat menyelesaikan masalah ataukah justru hanya sekedar menunda masalah ? Kita menjadi tidak nyaman, berjarak, mudah tersinggung, nyeri lambung dan tidak jarang mengalami susah tidur.

Sebaliknya, bisa jadi ada yang berprinsip, meskipun pahit, lebih baik kita bersikap apa adanya, berbicara terus terang, ekspresikan kemarahan dan jika perlu lakukan tindakan fisik.

Padahal mengekspresikan perasaan (mengeluarkan uneg-uneg) dengan mengumbar amarah adalah dua hal yang berbeda.

Mengumbar amarah memang dapat membuat kita lega sesaat, namun menguras emosi dan pesan (baca : maksud baik) belum tentu sampai sementara mengeluarkan uneg-uneg dapat membuat pesan sampai, tanpa harus membuat enerji terkuras.

Jadi pilih mana, marah marah ataukah mengeluarkan uneg-uneg ?

Ingin tidak perlu marah ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Sehubungan dengan ketentuan Pasal 55 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dimana orang tua atau wali dari Pecandu Narkotika yang belum cukup umur wajib melaporkan (ayat 1) atau Pecandu Narkotika yang sudah cukup umur diwajibkan melaporkan diri atau dilaporkan oleh keluarganya kepada Institusi Penerima Wajib Lapor.

Adapun institusi penerima wajib lapor meliputi : pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), rumah sakit, dan/atau lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial yang ditunjuk oleh Pemerintah guna mendapatkan pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.

Pecandu Narkotika yang telah melaporkan diri atau dilaporkan kepada Institusi Penerima Wajib Lapor akan diberi kartu lapor diri setelah menjalani asesmen (PP 25-2011 : Ps. 10, ayat 1).

Kartu Lapor Diri dimaksudkan untuk melindungi ybs., jika tersangkut masalah hukum. Yang bersangkutan dapat menunjukkan kartu lapor diri kepada pihak yang berwajib, agar dilakukan rujukan kembali kepada Lembaga / Institusi yang mengeluarkan kartu lapor diri tersebut.

Catatan : Kartu lapor diri ini hanya berlaku untuk 2x razia.

Ingin mencegah relapse ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 572 pengikut lainnya.