Dispepsia dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain :

Gangguan pencernaan non-ulkus [ sunting ]

Pada sekitar 50-70% pasien yang mengalami dispepsia, tidak ada penyebab organik yang pasti dapat ditentukan. Dispepsia seperti ini biasa disebut sebagai non-ulkus dispepsia dan diagnosis ditegakkan dengan kehadiran epigastralgia selama minimal 6 bulan, dengan tidak adanya penyebab lain sebagai gejala.

Pasca-infeksi [ sunting ]

Gastroenteritis meningkatkan risiko berkembang menjadi dispepsia kronis. Dispepsia pasca infeksi adalah istilah yang diberikan ketika dispepsia terjadi setelah terinfeksi gastroenteritis akut. Hal ini diyakini bahwa penyebab dari pasca-infeksi IBS dan dispepsia pasca-infeksi mungkin mirip dan mewakili aspek yang berbeda dari patofisiologi yang sama. [9]

Fungsional [ sunting ]

Ini adalah penyebab paling umum dari dispepsia kronis. Setelah gejala mereka dievaluasi, hampir tiga perempat pasien tidak memiliki penyebab organik yang jelas. Kemungkinan gejala timbul akibat adanya interaksi yang kompleks dari peningkatan sensitivitas aferen yang mendalam, pengosongan lambung yang tertunda (gastroparesis)  atau gangguan akomodasi untuk makanan, atau stres psikososial. Meskipun tidak berbahaya, gejala-gejala ini bisa menjadi kronis dan sulit diobati.

Penyakit saluran pencernaan [ sunting ]

Ketika dispepsia dapat dihubungkan dengan penyebab tertentu, kebanyakan kasus berhubungan dengan penyakit gastroesophageal reflux (GERD) dan ulkus peptikum. Penyebab kurang lazim termasuk gastritis, kanker lambung, kanker esophagus, penyakit celiac, alergi makanan, penyakit radang usus, iskemia usus kronis dan gastroparesis.

Penyakit hati dan pankreas [ sunting ]

Ini termasuk cholelithiasis, pankreatitis kronis dan kanker pankreas.

Intoleransi makanan atau obat [ sunting ]

Dispepsia akut dapat disebabkan oleh makan berlebihan, makan terlalu cepat, makan makanan berkadar lemak tinggi, makan dalam situasi stres atau minum terlalu banyak alkohol atau kopi. Banyak obat yang dapat menyebabkan dispepsia, seperti aspirin, obat nonsteroidal anti-inflammatory (NSAID), antibiotik (metronidazolmakrolid), obat diabetes (metformin, Alpha-glucosidase inhibitor, analog amylin, GLP-1 reseptor antagonis), obat antihipertensi (angiotensin converting enzyme [ACE] inhibitor, angiotensin II antagonis reseptor) agen penurun kolesterol (niacin, fibrat), obat neuropsikiatri (cholinesterase inhibitor [donepezil, rivastigmine]), SSRI (fluoxetine, sertraline), serotonin-norepinefrin-reuptake inhibitor (venlafaxine, duloxetine), obat Parkinson (Dopamin agonis, monoamine oxidase [MAO] -B inhibitor), kortikosteroid, estrogen, digoxin, besi dan opioid . [10]

Infeksi Helicobacter pylori [ sunting ]

Pada dispepsia fungsional, peran Helicobacter pylori adalah kontroversial dan telah ditetapkan tidak memiliki hubungan sebab akibat yang jelas. Hal ini berlaku untuk kedua profil gejala dan patofisiologi dispepsia fungsional, meskipun beberapa studi epidemiologi menunjukkan adanya hubungan antara infeksi H. pylori dengan dispepsia fungsional. Perbedaan tsb. mungkin disebabkan oleh adanya perbedaan dalam metodologi dan kurang memadainya pertimbangan faktor pembaur seperti riwayat penyakit ulkus peptikum dan status sosial ekonomi di masa lalu. [11] Uji coba terkendali tentang apakah pemberantasan H. pylori bermanfaat atau tidak dalam dispepsia fungsional menunjukkan hasil kira-kira setengah dari percobaan terdapat perbaikan dan setengah lainnya tidak ada perbaikan. Dalam uji coba terbaru US multicenter yang dilakukan pengobatan atau plasebo secara acak pada 240 pasien dan dilakukan selama 12 bulan, 28% dari pasien yang diobati dibandingkan 23% dari mereka yang menerima plasebo, gejalanya dilaporkan hilang pada tindak lanjut selama 12 bulan. Demikian pula, uji Eropa baru-baru ini tidak menunjukkan perbedaan dalam gejala yang signifikan setelah dibandingkan antara pemberantasan H. pylori dengan kontrol. Tinjauan sistematis pemberantasan, telah dilakukan dengan hasil yang bervariasi. Sebuah tinjauan sistematis pada Annals of Internal Medicine menyimpulkan bahwa secara statistik tidak ada efek yang bermakna dari rasio odds (OR) antara keberhasilan pengobatan dibandingkan dengan kontrol 1,29 (95% CI, 0,89-1,89; P = 0,18). Tidak ada efek yang terlihat setelah disesuaikan untuk heterogenitas dan untuk mengatasi H. pylori. Sebaliknya, review Cochrane menemukan meskipun kecil tapi secara statistik signifikan dalam mengobati gejala (mengatasi H. pylori  vs plasebo, masing-masing 36% vs 30%,). [12] [13]

Penyakit sistemik [ sunting ]

Ada sejumlah penyakit sistemik yang mungkin melibatkan dispepsia, meliputi penyakit koroner, gagal jantung kongestif, diabetes mellitushiperparatiroidisme, penyakit tiroid, penyakit ginjal kronis dan kelelahan adrenal . [14]

Sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/Indigestion

Ingin pulih dispepsia ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Gejala Dispepsia ?

13/02/2016

Dalam kebanyakan kasus, riwayat klinis klien jarang digunakan untuk membedakan mana dispepsia yang disebabkan oleh organik dan yang fungsional.

Sebuah tinjauan sistematis literatur akbar baru-baru ini dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas dari diagnosa dispepsia organik secara opini klinis dibandingkan dengan model komputer pada pasien yang dirujuk untuk melakukan endoskopi bagian atas.

Model komputer didasarkan pada demografi pasien, faktor risiko, riwayat dan gejala penyakit. Studi ini menunjukkan bahwa baik kesan klinis ataupun model komputer, mampu membedakan antara penyakit organik dengan fungsional secara memadai.[Rujukan?]

Dalam penelitian terbaru, pasien dengan penyakit ulkus peptikum dibandingkan terhadap pasien yang mengalami dispepsia fungsional.

Meskipun pada kelompok dispepsia fungsional dilaporkan mengalami perasaan penuh pada perut bagian atas, mual dan secara keseluruhan mengalami kesusahan dan kecemasan yang lebih besar, namun hampir semua gejala yang sama terlihat pada kedua kelompok.

Oleh karena itu, menjadi tugas yang menantang bagi dokter untuk memisahkan pasien yang diduga memiliki gangguan organik dari pasien yang memiliki dispepsia fungsional yang diberi pengobatan simptomatis empiris, sehingga menjamin pengujian diagnostik lebih lanjut.

Pemeriksaan harus ditargetkan untuk mengidentifikasi atau menentukan penyebab spesifik.

Sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/Indigestion

Ingin bebas dispepsia ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Gangguan pencernaan, juga dikenal sebagai dispepsia, adalah kondisi dimana pencernaan[1] mengalami gangguan.

Gejalanya meliputi : perut terasa penuh, mulas , mual, sendawa, atau sakit perut[2] bagian atas. Terkadang orang-orang juga merasa perut penuh sejak awal mau makan. [3]

Dispepsia adalah masalah umum dan sering disebabkan oleh penyakit gastroesophageal reflux (GERD) atau gastritis . [4]. 

Hal tersebut dapat merupakan gejala awal dari penyakit ulkus peptikum (tukak lambung perut atau usus dua belas jari ) dan terkadang kanker .

Oleh karena itu, adanya tanda tanda dispepsia atau gejala mengkhawatirkan lainnya pada usia diatas 55 tahun, mungkin memerlukan penyelidikan lebih lanjut. [5]

Gangguan pencernaan fungsional (sebelumnya disebut nonulcer dyspepsia) [6] adalah gangguan pencernaan yang gejala organiknya tidak dapat ditunjukkan. [7]

Diperkirakan, gangguan pencernaan fungsional mempengaruhi sekitar 15% dari populasi umum di negara-negara Barat. [ 6]

Sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/Indigestion

Ingin bebas dispepsia ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Dalam keadaan stres, produksi asam lambung cenderung meningkat. Hal tersebut disebabkan oleh meningkatnya kadar hormon adrenalin sehingga sekresi asam lambung secara otomatis juga meningkat.

Di sisi lain terjadi penurunan produksi mucus yang berfungsi melindungi dinding saluran pencernaan dari zat zat yang dapat merusak dinding lambung seperti asam lambung, 19 pepsin, asam empedu, enzim pankreas, infeksi helicobacter pylori, obat anti inflamasi non steroid (OAINS), alkohol, dan radikal bebas. (Greenberg, 2002 dalam Prio, 2009).

Belum lagi dengan pola mengunyah makanan yang buruk akibat terburu buru, jadwal makan yang tidak teratur dan buruknya asupan seperti makanan yang mengandung lemak (junkfood), menimbulkan iritasi (lada, cabe), menghasilkan gas (nangka, kembang kool, ubi), makanan yang sulit dicerna, kadar asam yang tinggi, kebiasaan merokok, minuman bersoda atau mengandung kafein, minuman yang mengandung alkohol dsb. dapat semakin meningkatkan resiko terkena gastritis.

Untuk mengatasinya dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pengobatan simptomatis yang berfokus pada menghilangkan akibat atau gejala negatif dan pengobatan causalis yang berfokus pada mengatasi akar masalah yang menjadi penyebab stres.

Dalam pengobatan simtomatis, biasanya menggunakan obat obatan (psikofarmaka) seperti antasida ataupun obat penenang. Sedang pengobatan causalis biasanya menggunakan psikoterapi, hipnoterapi atau servoterapi.

Pengalaman terapi menunjukkan, penggunaan obat obatan (psikofarmaka) tanpa disertai menghilangkan akar masalah yang menjadi penyebab kecemasan, biasanya bersifat sementara.

Ingin sembuh maag ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

 

Manajemen Stres

31/01/2016

Memang betul, masalah pribadi ataupun keluarga karyawan, bukanlah urusan perusahaan.

Namun entah disadari atau tidak, masalah pribadi atau keluarga karyawan sangat berpengaruh atas kinerja karyawan baik secara langsung maupun tidak langsung seperti sulit konsentrasi, mudah lupa, kurang tidur, nyeri lambung, mudah panik, takut presentasi, tidak percaya diri dsb.

Adapun pemberian sanksi ataupun hukuman kepada karyawan, bukanlah cara yang efektif karena tidak menyentuh akar permasalahan dan tidak menjawab pertanyaan mengapa kinerja karyawan menurun.

Lalu adakah cara agar kinerja karyawan tetap terjaga bahkan terus meningkat ?

Bagaimana jika dengan membekali karyawan tentang ilmu manajemen stres, manajemen marah, keterampilan hidup, komunikasi efektif atau paling tidak menginformasikan bahwa saat ini telah ada metode yang dapat membantu karyawan dalam mengendalikan stres, perusahaan tidak hanya mencegah menurunnya motivasi karyawan, bahkan sebaliknya dapat meningkatkan produktifitas, mau ?

Ingin membekali karyawan ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Gafatar

14/01/2016

DISCLAIMER : Kisah nyata berikut ini tidak dimaksudkan sebagai jaminan bahwa hasil terapi yang dicapai akan sama pada setiap orang, karena setiap kasus bersifat individu, tergantung dari kesediaan klien untuk berubah dan seberapa cepat akar masalah ditemukan !

“Kasus hilangnya dr. Rica Tri Handayani diduga terkait dengan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar).” demikian disampaikan Kapolda DIY, Brigjen Erwin Triwanto Senin, 11/1/2016.

Bahkan MUI di beberapa daerah seperti Aceh, Ternate, Yogyakarta, Jawa Timur sudah menyatakan Gafatar adalah aliran sesat dan menyesatkan karena merupakan metamorfose dari gerakan Al Qiyadah Al Islamiyah bentukan nabi palsu Ahmad Mushadeq yang dianggap telah melakukan penistaan terhadap agama, khususnya Islam dan diduga kuat terkait dengan banyaknya laporan orang hilang.

Terlepas dari soal benar atau tidaknya Gafatar, yang menarik dari kasus ini adalah kenapa banyak anak muda yang berpendidikan, begitu mudah percaya dan patuh pada sebuah ajaran yang tidak jelas.

Kami jadi teringat, pernah menangani kasus seorang remaja yang terjebak dalam perkumpulan sejenis dimana ybs. menjadi seperti hilang kesadaran, berbohong pada orang tua, mengambil uang orang tua, meninggalkan kuliah, padahal sebelumnya ybs. sangat patuh kepada orang-tua dan rajin beribadah.

Untungnya pihak keluarga segera menyadarinya dan meminta bantuan profesional untuk mengatasinya.

Pada tahap awal ybs. merasa sangat sulit untuk meninggalkan perkumpulan tersebut karena selalu dipantau oleh para seniornya, merasa selalu dibayang bayangi oleh wajah pemimpinnya dan dihantui oleh rasa takut yang hebat jika melanggar janji.

Alhamdulillah, setelah melalui beberapa kali terapi, mulai dari pemaparan peta emosi, apa itu sumber stres dan sumber nyaman, pemahaman tentang alat dan tujuan hidup serta dibantu dengan terapi untuk menghilangkan bayang bayang pemimpin, akhirnya ybs. bersedia meninggalkan perkumpulan tersebut dan mau menyelesaikan kuliahnya.

Ingin terbebas dari aliran sesat ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Entah disadari atau tidak, semakin mudahnya akses internet dan semakin maraknya media sosial berpotensi menjadi pemicu masalah sosial baru berupa gangguan kecemasan akut ataupun kecanduan internet.

Berdasarkan informasi yang SERVO Clinic terima, baik dari klien ataupun calon klien (masih perlu diteliti lebih lanjut) perasaan cemas tersebut dapat berupa perasaan panik jika berhubungan dengan informasi tentang penyakit, gambar sadis, ramalan dsb.

Sebaliknya jika berhubungan dengan cerita/gambar porno, game, fashion dsb., dapat berupa dorongan tidak terkendali (obsesif), bahkan pada beberapa klien telah mengarah kepada gangguan obsessive compulsive disorder (OCD).

Untuk itu, sebelum menggunakan internet ataupun media sosial, pastikan bahwa Anda sadar penuh akan resikonya, karena kedua hal tersebut dapat menempatkan kita pada dua posisi utama yaitu posisi konsumen atau posisi produsen, posisi pelaku (subjek) atau posisi korban (objek), posisi aktif atau posisi pasif.

Dengan demikian, kita akan dengan mudah terhindar dari JEBAKAN  serangan panik ataupun kecanduan internet, bahkan fitnah, penipuan, pemangsa seks, sindikat narkoba, terorisme, politik pencitraan dsb.

Ingin bebas dari serangan panik ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 689 pengikut lainnya