Berharap tim sepak-bola ataupun capres idola kita menang kompetisi adalah wajar karena hal tersebut mejadi alat untuk merepresentasikan diri dalam kehidupan sosial.

Di dalamnya terdapat harapan bahwa apa yang kita yakini melalui segenap pemikiran dan perasaan akan meraih hasil sesuai dengan yang kita harapkan.

Namun di sisi lain kita juga perlu menyadari bahwa ada hal hal yang tidak bisa kita kendalikan seperti pikiran orang lain, sistem, keberuntungan, keberpihakan, hasil dsb. sehingga sebaik apapun analisa kita, semantap apapun keyakinan kita tetap membuat “jagoan” kita memiliki peluang untuk menang atau kalah.

Lalu apakah kita harus merasa sakit hati atau terhina saat idola kita kalah, ataupun merasa euforia atau sombong saat idola kita menang, bahkan jika perlu kita putus hubungan dengan saudara atau teman yang berseberangan pilihan dengan kita ?

Bagaimana jika dengan memasukkan menang kalah sebagai resiko menjadi partisan justru membuat kita menjadi lebih bijak dan realistis dalam kehidupan.

Jadi letak persoalannya justru bukan pada soal menang kalahnya, melainkan lebih kepada apakah kita MENSIKAPI kemenangan dan kekalahan dengan cara yang tepat.

Ibarat orang sedang menimba ilmu, maka jika analisa kita benar maka kita mendapat dua pahala yaitu manfaat dan hikmah untuk menang dan jika analisa kita salah maka kitapun tetap mendapat satu pahala yaitu hikmah untuk tidak mengulangi kekalahan.

Ingin merasa Plong ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Kecewa pada Anak ?

23/07/2014

Adalah wajar jika sebagai orang tua, kita merasa sedih saat buah hati tidak lulus Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

Namun menganggap sang anak, tidak peduli terhadap masa depannya juga bukanlah hal yang bijak karena seburuk apapun hasil tes, didalamnya tetap ada pengorbanan anak yang harus dihargai seperti kerelaan bangun pagi saat masih mengantuk, melawan dinginnya air mandi pagi dan mengorbankan waktu bermainnya.

Jadi menyalahkan atau memarahi anak saat belum berhasil masuk perguruan tinggi negeri, sama sekali tidak ada gunanya karena hal tersebut justru dapat membuat anak menjadi semakin stres dan merasa gagal. Justru yang dibutuhkan anak anda saat ini adalah dukungan, bukan tudingan, solusi masalah, bukan nasihat.

Sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengajarkan ke anak tentang realita hidup, mengambil hikmah, menerima “hasil” sebagai resiko dan bagaimana menyempurnakannya ke depan, sehingga sang anak menyadari bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana, ada saat jatuh dan ada cara bangkit dsb.

Ingat, menasihati anak tentang masa depan adalah baik dan mengajarkan anak untuk realistis juga penting.

Ingin bisa berubah ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Berhenti Merokok ?

21/05/2014

Mungkin banyak diantara perokok yang telah berkali kali mencoba berhenti merokok.

Berbagai upaya dilakukan mulai dengan mengurangi jumlah rokok yang dihisap perhari, mengganti dengan permen, berpuasa, minum obat dll., namun usaha tersebut tidak membuahkan hasil dan kalaupun berhasil biasanya hanya bertahan beberapa hari, untuk kemudian memulainya kembali, bahkan tidak jarang dengan jumlah yang lebih besar dan jarak yang lebih pendek.

Mengapa hal tersebut dirasa sulit dan berpotensi menimbulkan frustrasi ?

Entah disadari atau tidak, aktifitas merokok yang awal mulanya cuma dijadikan sarana iseng oleh perokok pemula, dikemudian hari sering dijadikan sebagai sarana untuk menenangkan diri atau menurunkan kecemasan dirinya akibat tekanan kehidupan sehari hari seperti belajar, bekerja, berkeluarga, bermasyarakat dll.

Akibatnya setiap upaya berhenti merokok dapat mengaktifkan kembali perasaan cemas yang sebelumnya otomatis diturunkan oleh kebiasaan merokok. Hal tersebut lazim dikenal sebagai efek penarikan kembali (withdrawal effect) karena tubuh berusaha menyesuaikan diri kembali.

Untuk ini yang diperlukan adalah cara untuk membuang penyebab kecemasan tersebut (problem solving skills), bukan mengalihkan perasaan gelisahnya pada sarana penenang lainnya.

Ingin mudah berhenti merokok ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

 

Pedofilia ?

07/05/2014

Apakah seseorang yang memiliki kecenderungan pedofilia ataupun bentuk bentuk kelainan seks lainnya dapat disembuhkan ? Maka jawabannya bisa YA dan bisa juga TIDAK !

Seseorang yang memiliki kecenderungan pedofilia ataupun bentuk bentuk kelainan seks biasanya merasa “dikuasai” oleh sebuah dorongan atau hasrat seksual yang tidak lazim, namun sangat luar biasa sehingga ybs. merasa tidak berdaya untuk melawannya.

Adapun yang membedakannya adalah apakah ybs. “menyadari” bahwa dorongan tersebut tidak lazim dan ingin terbebas dari “kuasa” tersebut (ego distonik) ? Jika jawabannya YA maka ybs. dapat dipulihkan melalui terapi.

Namun, jika jawabannya TIDAK dan ybs. cenderung melakukan rasionalisasi atas dorongan tersebut (ego sintonik) maka hampir dipastikan ybs. tidak dapat dipulihkan.

Sayangnya, mirip seperti pada kasus kleptomania (mencuri tanpa sadar) yang menjadi kendala adalah tidak mudah mendorong seorang pemangsa (predator) seks untuk meminta bantuan profesional, sekalipun gratis, kecuali pada pelaku yang benar benar ingin berubah.

Untuk ini diperlukan kebijakan pemerintah untuk memberikan “pengampunan” dan “pemulihan gratis” bagi pelaku pedofilia yang ingin “bertobat” sebelum ybs. berurusan dengan hukum dan memberikan hukuman seberat beratnya jika sudah masuk ke ranah hukum.

Paling tidak pola penangan pelaku pedofilia seperti pada kasus narkoba, berupa “pengampunan” dan “pemulihan gratis” bagi yang pro-aktif meminta bantuan profesional, secara relatif dapat mencegah timbulnya korban-korban baru.

Ingin sembuh dari Pedofilia ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Nilai IP

DISCLAIMER : Kisah nyata berikut ini tidak dimaksudkan sebagai jaminan bahwa hasil terapi yang dicapai akan sama pada setiap orang, karena setiap kasus bersifat individu, tergantung dari kesediaan klien untuk berubah dan seberapa cepat akar masalah ditemukan !

Apakah prestasi belajar anak remaja Anda biasa biasa saja ?

Jika ya, bisa jadi karena orang-tua mengirimkan “pesan” yang keliru kepada buah hatinya, seolah-olah belajar merupakan kepentingan orang-tua, bukan kepentingan dirinya.

Adakah cara mudah untuk mengetahui apakah orang-tua telah mengirim “pesan” yang salah mengenai manfaat belajar atau pentingnya sekolah kepada ananda ?

Indikatornya sangat mudah.

Perhatikan, apakah anak Anda senantiasa mempersiapkan buku pelajaran dan mengerjakan tugas sekolahnya sendiri, apakah anak Anda bangun dan mandi pagi sendiri ? Ataukah sebaliknya, harus senantiasa diingatkan atau dikejar kejar oleh orang-tua ?

Apakah orang-tua mudah panik ataupun marah, jika anak tidak mengerjakan PR, malas bangun, mandi terlambat atau sarapan lelet ? Apakah orang-tua sering mengomel karena kuatir ananda ketinggalan jemputan ?

Jika jawabannya ya, hampir dipastikan persoalannya justru ada pada orang-tua.

Maksud baik orang tua yang tidak disampaikan dengan cara yang tepat, seolah memberi “pesan” bahwa gara-gara sekolah, telah membuat dirinya menderita. Gara gara sekolah, telah membuat sikap orang-tua berubah, dari yang sebelumnya menyenangkan, menjadi “monster” yang super cerewet.

Bagaimana jika anak sudah cukup mandiri, dan orang-tua tidak terlalu banyak ikut campur, namun prestasi belajarnya masih tetap biasa biasa saja ?

Anda tidak usah kuatir, kemungkinannya bisa karena  sang anak belum menemukan sisi yang menyenangkan dari belajar atau bisa jadi karena memiliki ketertarikan di bidang lain seperti musik, olah-raga, menulis dsb. Untuk itu sudah menjadi tugas orang-tua untuk membantu menemukannya.

Jadi jika Anda tidak dapat membantu buah hati Anda dalam menemukan “passion”nya, paling tidak pastikan diri Anda tidak menjadi “monster” yang menyebalkan bagi dirinya.

Jika perlu, mintalah bantuan profesional.

Catatan :

Foto di atas merupakan transkrip nilai seorang mahasiswa Fakultas Hukum sebuah Universitas Negeri di Yogyakarta. Meskipun prestasi belajarnya sewaktu bersekolah di SD, SMP, SMA biasa biasa saja, namun jika ditangani secara tepat, dapat berubah menjadi sangat luar biasa, sehingga mencapai IP Kumulatif 3,65 dari skala 4.

Ingin anak berprestasi ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Letak Kebahagiaan ?

10/01/2014

Mungkin ada diantara kita yang berfikir akan bahagia saat memiliki handphone baru atau tas bermerk.

Atau ada juga yang mengira bahwa kebahagiaan akan sangat sempurna saat kita memiliki mobil bagus atau rumah mewah.

Lalu jika itu semua telah tercapai, apakah kebahagiaan tersebut menjadi abadi ? Ataukah cuma rasa senang sesaat yang segera pupus saat melihat HP atau tas keluaran terbaru, mobil ataupun rumah lain yang lebih mewah ?

Jika demikian, dimanakah letak kebahagiaan sesungguhnya ?

Ketidak mampuan seseorang membedakan mana yang sekedar “alat” dan mana yang menjadi “tujuan” hidup, membuat seseorang mengira letak kebahagiaan berada sangat jauh di depan, yaitu saat seseorang berhasil mencapai sesuatu yang diinginkan.

Hal tersebut biasanya disebabkan oleh pola asuh ataupun pola pendidikan yang keliru dan semakin diperparah oleh banjirnya budaya hedonisme atau kapitalis sehingga tanpa disadari, kita ditempatkan sebagai budak kesenangan semu.

Bagaimana jika dengan sedikit mengubah cara berfikir Anda, dapat seketika membuat Anda bahagia, mau ?

Ingin mudah bahagia ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Bunuh Diri ?

16/11/2013

Jika Anda tau tubuh Anda bisa diperintah, apakah Anda akan membiarkannya salah arah ?

Jika Anda tau bahwa setiap perasaan negatif hanyalah sinyal tubuh, apakah Anda masih akan berfokus pada rasa sakit ? 

Jika Anda tau bahwa diri Anda normal, apakah Anda masih perlu khawatir, sewaktu waktu menjadi gila ?

Jika Anda tau bahwa semua masalah selalu ada solusinya, apakah Anda masih berniat bunuh diri ?

Ingin punya solusi ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 372 pengikut lainnya.