Mengidap Bipolar ?

20/08/2014

Apakah Anda oleh dokter divonis sebagai pengidap bipolar ?

Apakah Anda merasa tidak dimengerti oleh saudara, teman, orang-tua dan lingkungan Anda, bahkan tidak jarang Anda dianggap mengada-ada, berpura-pura atau cuma sekedar mencari perhatian ?

Jika ya, mulai sekarang, berhentilah minta dikasihani ataupun dimengerti oleh mereka. Hal tersebut bukan karena ketidak pedulian mereka, melainkan lebih disebabkan karena ketidak mampuan keterbatasan mereka dalam menyelami perasaan ataupun penderitaan Anda.

Jauh lebih berguna jika Anda memahami gangguan bipolar seperti seseorang yang sedang berada pada situasi super pasif dimana saat terpapar dengan “sumber stress”, Anda merasa sangat cemas, saat terpapar dengan “sumber nyaman”, Anda merasa nyaman luar biasa, saat terpapar dengan “sumber kesedihan”, Anda merasa sangat sedih dsb.

Jadi letak persoalannya bukan pada rasa cemas, rasa nyaman atau rasa sedih itu sendiri, melainkan pada “ketiadaan kendali” atas sumber stress, sumber nyaman ataupun sumber kesedihan tsb.

Bagaimana jika dengan meminta bantuan profesional, justru Anda sendiri yang mengatasi gangguan bipolar Anda, daripada berharap dimengerti oleh mereka yang memang tidak mengerti, mau ?

Ingin mengatasi bipolar ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Pada dasarnya manusia dirancang sempurna oleh Tuhan sehingga berpotensi sukses.

Rujukan :

  • As Sajdah (32) ayat 7 : Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah.
  • As Sajdah (32) ayat 9 : Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.

Uniknya, manusia tidak dirancang untuk langsung “sukses”, melainkan melalui suatu proses pembelajaran dimana ybs. harus melewati berbagai ujian (suatu keniscayaan) berupa beberapa variabel ketidak pastian seperti pikiran orang lain, pola asuh, pola pendidikan, sistem, budaya, musibah dsb.

Rujukan : Al Baqarah (2) ayat  155 : Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.  Dan berikanlah berita gembira kepada orang orang yang sabar.

Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah “sabar” yang seperti apakah yang dimaksudkan ayat tersebut agar kesuksesan dapat dicapai ?

Pengalaman terapi menunjukkan bahwa letak persoalannya justru bukan pada apakah “hasil”, sudah atau belum “sesuai” dengan yang ingin dicapai, melainkan justru lebih pada “cara” kita “mensikapi” hasil itu sendiri.

Apakah saat hasil sudah “sesuai” dengan rencana, membuat kita menjadi lalai (baca : lupa diri) ? Ataukah saat belum berhasil justru membuat kita menjadi bangkit dan terus menyempurnakan diri ?

Jadi yang dimaksud sabar dalam ayat tersebut adalah “kesediaan untuk terus menyempurnakan diri” bukan cuma menunggu keberuntungan.

Ingin anak mandiri ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

 

Sayang Anak ?

16/08/2014

Apakah saat ini Anda adalah seorang pribadi yang sukses, meski dulu hidup Anda menderita ?

Apakah penderitaan tersebut membuat diri Anda bertindak berlebihan dalam melindungi anak anak Anda (overprotective), agar mereka tidak mengalami hal yang serupa dengan yang pernah Anda alami ?

Bagaimana jika tindakan tersebut, dikemudian hari justru berpotensi membuat “buah hati” Anda menjadi tidak mandiri bahkan “tidak bisa apa apa”, masihkah Anda ingin melanjutkan pola asuh tersebut ?

Melindungi anak adalah salah satu sikap orang tua yang baik, namun mengajarkan anak mandiri juga merupakan sikap orang tua yang bijak.

Adapun yang membedakannya terletak pada “timing” kapan seorang anak perlu dilindungi dan kapan seorang anak perlu diajarkan mandiri.

Syukur syukur jika ybs. bisa berguna bagi orang lain, paling tidak dia bisa berguna bagi dirinya sendiri.

Ingin anak mandiri ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

DSM IV dan PPDGJ-III telah disebutkan bahwa homoseksualitas tidak termasuk dalam klasifikasi gangguan atau masalah kejiwaan.

Jika klasifikasi tersebut benar, apakah berarti seseorang yang berorientasi heteroseksual termasuk dalam klasifikasi mengalami masalah kejiwaan ?

Ataukah DSM IV dan PPDGJ-III ingin mengatakan bahwa homoseksual merupakan kehendak Tuhan (takdir) sehingga tidak termasuk ke dalam klasifikasi gangguan atau masalah kejiwaan ?

Padahal berdasarkan pengalaman memberikan terapi masalah homoseksual, pernyataan DSM IV atau PPDGJ-III, hanya benar jika orientasi homoseksual seseorang telah sinkron dengan ego sintoniknya (baca : homoseksual telah diputuskan sebagai pilihan orientasi seksualnya).

Sebaliknya jika orientasi homoseksual seseorang bertentangan dengan ego sintoniknya (baca : masih dalam pergulatan menemukan jati-dirinya), maka ybs. masih tetap dapat kembali menjadi heteroseksual 100%.

Jadi jika ada statement yang mengatakan bahwa homoseksualitas adalah “takdir” Tuhan, kiranya hal tersebut layak dipertanyakan.

Lagipula jika homoseksual merupakan “takdir” Tuhan, lalu kenapa Tuhan hanya menciptakan dua bentuk alat kelamin, padahal menciptakan makhluk tanpa alat kelaminpun Tuhan mampu ?

Ingin menjadi heteroseksual ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Robin Williams, komedian sekaligus aktor terkenal, dikabarkan meninggal bunuh diri pada Senin, 11 Agustus akibat menderita depresi.

Sebagai seorang pengidap bipolar, diduga ybs. senantiasa berada pada dua kutub emosi yang ekstrim, sehingga berpotensi menimbulkan rasa senang atau rasa sedih yang sangat dalam, tergantung dari ada tidaknya sumber nyaman atau mengalami rasa tegang atau rasa lemas yang luar biasa, tergantung dari ada tidaknya sumber stress.

Apakah tuntutan sosial seorang publik figur dan tuntutan peran sebagai seorang aktor, berkontribusi nyata dalam memperparah gangguan bipolar yang diidapnya ? Kiranya masih perlu diteliti lebih lanjut.

Bukankah sebagai seorang publik figur ybs. senantiasa dituntut untuk tampil sempurna sesuai harapan para penggemarnya ?

Disisi lain, sebagai seorang aktor ybs. senantiasa dituntut untuk terlibat secara total (berasosiasi) atas peran yang sedang dimainkan ?

Untuk ini menjadi penting, bagi seorang aktor memiliki keterampilan untuk melakukan keterlibatan emosi (asosiasi) saat menjadi seorang aktor, sekaligus membebaskan diri dari keterlibatan emosi (dissosiasi) saat kembali menjadi orang biasa (baca : kembali ke jati-dirinya).

Ingin bebas bipolar ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

DISCLAIMER : Kisah nyata berikut ini tidak dimaksudkan sebagai jaminan bahwa hasil terapi yang dicapai akan sama pada setiap orang, karena setiap kasus bersifat individu, tergantung dari kesediaan klien untuk berubah dan seberapa cepat akar masalah ditemukan !

Seorang wanita menghubungi SERVO Clinic, sehubungan dengan kebiasaan berhutang sang ibu.

Pada awalnya, hal tersebut dikira hanya bersifat sementara, sehingga semua kewajiban membayar tagihan dilakukan oleh sang anak.

Namun semakin lama kebiasaan tersebut semakin tidak terkendali dan sudah sampai pada tahap yang mengkhawatirkan karena hubungan komunikasi dengan sang suami mulai terganggu, disisi lain adik-adiknya mulai berlepas diri, bahkan sang ayahpun mulai tidak peduli terhadap istrinya.

Saat hal tersebut dikonfirmasikan, sang Ibu beralasan kebiasaan berhutang tersebut muncul, akibat sikap suami yang dulu sangat pelit kepadanya.

Berbagai upaya telah dilakukan mulai dari marah, membuat perjanjian tertulis hingga ancaman akan dipidanakan, namun hal tersebut tidak membuat sang ibu menjadi jera.

Solusi :   Pola interaksi di dalam keluarga harus kembali di tata ulang, mulai dari sikap sang ayah yang abai terhadap istrinya dan yang tidak kalah penting adalah menghilangkan kebiasaan mengambil alih tanggung jawab sang ibu.

Ingin kembali harmonis ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Pernahkah timbul keraguan dalam hati kita “Apakah saya bisa ?”, “Apakah saya mampu ?”

Bagaimana jika dengan “tanpa” mengajukan pertanyaan tersebut, hidup kita justru menjadi lebih mudah untuk mempelajari sesuatu hal yang baru ataupun keterampilan baru ?

Ibarat seorang bayi saat belajar berjalan, ybs. telah memiliki keyakinan “mampu berjalan” jauh sebelum ybs. betul-betul mampu berjalan (baca : masih merangkak). Cukup hanya karena melihat orang tua ataupun saudara saudaranya mampu berjalan.

Begitu pula dengan kesuksesan hidup, bagaimana jika dengan “tanpa” mengajukan pertanyaan “apakah saya bisa atau apakah saya mampu”, justru membuat proses pembelajaran kita menjadi lebih cepat dan mudah ?

Kita hanya cukup meyakini bahwa jika orang lain bisa sukses, tentunya kitapun juga bisa sukses.

Jadi cukup “Just do it” !

Ingin merasa bisa ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 386 pengikut lainnya.