DISCLAIMER : Kisah nyata berikut ini tidak dimaksudkan sebagai jaminan bahwa hasil terapi yang dicapai akan sama pada setiap orang, karena setiap kasus bersifat individu, tergantung dari kesediaan klien untuk berubah dan seberapa cepat akar masalah ditemukan !

Alhamdulillah senang sekali saya hari ini, saat menerima laporan dari klien bahwa ybs. tidak lagi mengalami sakau (withdrawal effect) dan kejang, saat berangsur angsur menghentikan penggunaan obat-obatan psikis.

Hal ini menjadi jawaban bagi para pecandu obat-obatan ataupun junkies bahwa kecanduan obat-obatan dapat diatasi tanpa harus melalui “kesakitan” yang hebat (sakau), jika dilakukan dengan cara yang benar dan oleh profesional.

Agar proses detoksifikasi berjalan dengan aman dan terkendali, maka urut-urutan yang harus dilalui sebagai berikut :

  1. Putuskan untuk menghentikan ketergantungan pada obat secara bertahap dan dibawah supervisi profesional
  2. Jika masih remaja dan masih bergantung kepada orang tua, berterus teranglah kepada mereka agar mendapatkan dukungan moril dan finansial
  3. Berobatlah  ke dokter, psikiater, puskesmas, rumah sakit, dan atau lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial yang ditunjuk Pemerintah guna mendapatkan obat pengganti (substitusi) secara resmi.
  4. Agar terlindung dari masalah hukum selama masa rehabilitasi, mintalah kartu lapor diri kepada institusi penerima wajib lapor (PP 25-2011 : Ps. 10, ayat 1)
  5. Untuk mengendalikan efek sakau selama proses detoksifikasi ataupun efek relapse pasca rehabilitasi, lengkapi dengan terapi SERVO ! Catatan : Terapi SERVO hanya merupakan terapi pendukung atas terapi yang dilakukan oleh psikiater dan tidak dimaksudkan sebagai pengganti peran psikiater.

Ingin mengendalikan efek sakau ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Perlukah Marah ?

17/04/2015

Memendam perasaan atau menahan diri untuk tidak marah, sepintas berguna, kita menjadi tidak perlu berkonflik, tidak dimusuhi dan tidak kehilangan teman.

Apakah hal tersebut dapat menyelesaikan masalah ataukah justru hanya sekedar menunda masalah ? Kita menjadi tidak nyaman, berjarak, mudah tersinggung, nyeri lambung dan tidak jarang mengalami susah tidur.

Sebaliknya, bisa jadi ada yang berprinsip, meskipun pahit, lebih baik kita bersikap apa adanya, berbicara terus terang, ekspresikan kemarahan dan jika perlu lakukan tindakan fisik.

Padahal mengekspresikan perasaan (mengeluarkan uneg-uneg) dengan mengumbar amarah adalah dua hal yang berbeda.

Mengumbar amarah memang dapat membuat kita lega sesaat, namun menguras emosi dan pesan (baca : maksud baik) belum tentu sampai sementara mengeluarkan uneg-uneg dapat membuat pesan sampai, tanpa harus membuat enerji terkuras.

Jadi pilih mana, marah marah ataukah mengeluarkan uneg-uneg ?

Ingin tidak perlu marah ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Sehubungan dengan ketentuan Pasal 55 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dimana orang tua atau wali dari Pecandu Narkotika yang belum cukup umur wajib melaporkan (ayat 1) atau Pecandu Narkotika yang sudah cukup umur diwajibkan melaporkan diri atau dilaporkan oleh keluarganya kepada Institusi Penerima Wajib Lapor.

Adapun institusi penerima wajib lapor meliputi : pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), rumah sakit, dan/atau lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial yang ditunjuk oleh Pemerintah guna mendapatkan pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.

Pecandu Narkotika yang telah melaporkan diri atau dilaporkan kepada Institusi Penerima Wajib Lapor akan diberi kartu lapor diri setelah menjalani asesmen (PP 25-2011 : Ps. 10, ayat 1).

Kartu Lapor Diri dimaksudkan untuk melindungi ybs., jika tersangkut masalah hukum. Yang bersangkutan dapat menunjukkan kartu lapor diri kepada pihak yang berwajib, agar dilakukan rujukan kembali kepada Lembaga / Institusi yang mengeluarkan kartu lapor diri tersebut.

Catatan : Kartu lapor diri ini hanya berlaku untuk 2x razia.

Ingin mencegah relapse ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Banyak artikel yang mengupas tentang manfaat hubungan pasutri bagi kesehatan antara lain, menurunkan tingkat stres, meningkatkan daya tahan tubuh, membantu menurunkan berat badan, meningkatkan kesehatan jantung, meningkatkan rasa percaya diri, mengurangi resiko kanker prostat, menurunkan tingkat kematian, meningkatkan kualitas tidur, meningkatkan kesehatan kulit dll.

Anehnya, meskipun banyak manfaat yang dapat diperoleh dari hubungan seks, namun tidak menjamin frekuensi hubungan pasangan suami istri akan meningkat setiap bulannya.

Hal tersebut dapat disebabkan oleh berbagai hal :

  1. Konflik yang terus menerus karena perbedaan pendapat
  2. Masalah terkait sumber keuangan, penggunaan dan pertanggung jawaban
  3. Kehilangan rasa hormat terhadap pasangan
  4. Tidak menghargai pasangan
  5. Hambatan dalam berkomunikasi
  6. Suka memaksakan kehendak
  7. Bersikap apatis
  8. Cemburu yang berlebihan, dll

Dari pengalaman membantu pasangan suami istri, kami mengidentifikasi adanya beberapa kesamaan pola pada hambatan seks pasutri antara lain (perlu diteliti lebih lanjut) :

  1. Inisiatif terjadinya suatu hubungan seks pasutri, kebanyakan dimulai dari pihak pria
  2. Ketidak mampuan pihak wanita dalam mengekspresikan kesenangan yang dirasakan ataupun posisi yang diinginkan
  3. Pihak wanita berpura pura puas dan pihak pria yang terlalu cepat selesai
  4. Seks hanya dijalankan sebagai sebuah kewajiban suami istri
  5. Seks dijadikan simbol dominasi atas pasangannya
  6. Seks hanya sebagai alat untuk meningkatkan posisi tawar atau sanksi
  7. Seks hanya dijadikan sebagai alat untuk menebus rasa bersalah pasca konflik
  8. Seks sebagai kamuflase atas perselingkuhan ataupun penyimpangan seksual

Bagaimana jika dengan memahami ulang makna seks bagi pasangan suami istri, tujuan pernikahan yang sakinah, mawaddah dan warohmah dapat kembali di rajut, mau ?

Ingin kembali bergairah ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Tertangkapnya kembali artis Fari* RM pada kasus narkoba, menambah panjang daftar artis yang berulangkali terjerat pada kasus yang sama.

Sebut saja artis lainnya seperti Ibr* Azhar*, Ro* Marte*, Revald*, Pol* Srimula*, Doyo* dan banyak lagi arti lainnya. Hal ini tentunya sangat memprihatinkan, mengingat mereka dulunya adalah orang orang yang berprestasi dan menjadi model bagi penggemarnya.

Lalu mengapa mereka “jatuh” kembali pada lubang yang sama ? Adakah yang salah dengan pola penanganan baik hukum, sosial maupun rehabilitasi ?

Mereka adalah tipe orang orang yang bekerja di dua ekstrim. Di saat jaya, mereka adalah “subjek” sebagai pekerja aktif, memiliki pengaruh, banyak uang, banyak teman dsb., namun pada yang sama mereka adalah “objek” dengan jadwal padat, pola tidur dan makan tidak teratur, komunikasi keluarga berkurang dll.

Tekanan pekerjaan yang sangat tinggi inilah yang membuat mereka menjadi sangat rentan terhadap sumber rasa nyaman yang semu seperti alkohol, obat obatan, seks, judi dll., hal tersebut akibat adanya kebutuhan bawah sadar untuk menurunkan ketegangan.

Ironisnya, seiring dengan mulai memudarnya popularitas, berkurangnya penghasilan mereka apalagi jika disertai masalah keluarga, dapat semakin meningkatkan kecemasan mereka dan ini berarti pula semakin meningkatkan kebutuhan mereka akan rasa nyaman.

Klimaksnya, saat mereka tertangkap menggunakan barang haram inilah yang membuat semuanya menjadi terbalik, seperti rasa bersalah kepada keluarga atau penggemar, rasa marah diri sendiri dan ini tentu saja semakin menempatkan diri mereka dalam posisi objek (baca : pesakitan).

Selanjutnya, pola penanganan hukum, sosial ataupun rehabilitasi yang tidak tepat, dapat pula membuat ybs. semakin terpuruk karena semakin menurunkan harga diri (self esteem) mereka. Tidak heran jika mereka mudah terjatuh kembali pada lubang yang sama.

Bagaimana jika dengan hukuman rehabilitasi, disertai hukuman kerja sosial seperti menjadi pengajar/mentor musik, pelawak, akting dsb. dapat semakin mempercepat proses penemuan kembali jati diri mereka ?

Ingin kembali berguna ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Trauma Visual ?

27/11/2014

Pernahkah Anda melihat postingan foto menakutkan atau sadis di media sosial ?

Lalu Anda diminta untuk mengatakan “amin” dengan cara memberi tanda “like” atau meneruskan pesan tersebut ke handai tolan Anda dan jika hal tersebut tidak Anda lakukan maka Anda dianggap tidak memiliki nurani bahkan dianggap tidak bermoral.

Tahukah Anda bahwa foto sadis tersebut dapat menimbulkan trauma visual sehingga akan selalu terbayang bayang, bagi siapapun yang melihatnya ?

Bagaimana jika pesan berantai tersebut dimaksudkan untuk tujuan tertentu yang menyesatkan, propaganda terselubung misalnya ? Lalu bagaimana kita harus mensikapinya ?

Rumusnya sederhana, sebuah perbuatan, dapat disebut sebagai perbuatan baik, hanya jika dilakukan dengan cara cara yang baik pula.

Jika demikian, apakah tindakan meneruskan foto tersebut masih dapat disebut sebagai tindakan bermoral atau justru sebaliknya ?

Ingin bebas trauma ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Lebih Baik Mana ?

30/10/2014

Sudah pernah lihat sebuah foto di Twitter yang coba membandingkan antara Susi Pudjiastuti, menteri Kelautan dan Perikanan dengan Ratu Atut Chosiyah, mantan Gubernur Banten ?

Pada etiket foto tersebut, figur Susi Pudjiastuti ditulis sebagai perokok, bertato, 2 kali kawin cerai, bergajulan, tidak berjilbab, tidak lulus SMA sedang figur Ratu Atut Chosiyah ditulis sebagai tak merokok, tak bertato, tak kawin cerai, santun, berjilbab, pendidikan tinggi.

Kita tidak tau apa yang menjadi motivasi si “pembanding”, apakah karena ybs. merasa sosok dirinya terwakili dalam figur seorang Susi Pudjiastuti ataukah karena menganggap seseorang yang tidak merokok, tidak bertato, tidak kawin cerai, santun, berjilbab, pendidikan tinggi adalah sebuah perilaku yang buruk ?

Mungkin saking bersemangatnya, ybs. lupa membandingkan “berapa persen dari orang yang merokok, bertato, kawin cerai, begajulan, tidak berjilbab, tidak lulus SMA” yang berhasil seperti ibu Susi Pudjiastuti dan lupa membandingkan “berapa persen dari orang yang tidak merokok, tidak bertato, tidak kawin cerai, santun, berjilbab, berpendidikan tinggi” yang melakukan tindakan tercela.

Bagaimana jika dengan meminjam cara berfikir seorang Buya Hamka, kita tidak lagi menilai seseorang secara subjektif, apalagi menggeneralisir secara membabi buta ?

Sehingga kita semua akan berkata :”Wow, seorang Susi Pudjiastuti yang perokok, bertato, 2 kali kawin cerai, bergajulan, tidak berjilbab, tidak lulus SMA saja berprestasi luar biasa seperti itu, bagaimana kalau ybs. tidak merokok, tidak bertato, tidak kawin cerai, santun, berjilbab, berpendidikan tinggi pasti bisa lebih hebat dari itu.”

Ingin hidup lebih berguna ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 535 pengikut lainnya.