Rasa Bersalah ?

11/07/2008

DISCLAIMER : Kisah nyata berikut ini tidak dimaksudkan sebagai jaminan bahwa hasil terapi yang dicapai akan sama pada setiap orang, karena setiap kasus bersifat individu, tergantung dari kesediaan klien untuk berubah dan seberapa cepat akar masalah ditemukan !

Rosa (nama samaran), wanita Pengusaha, berusia tiga puluhan datang ke tempat praktek saya dengan keluhan susah tidur, merasa stress dan sangat ketakutan dalam menyongsong kehidupan.

Berbagai upaya penyembuhan telah dilakukan mulai dari membaca buku buku motivasi, mendengarkan talkshow di radio, konsultasi hingga penggunaan obat obatan ternyata tidak banyak membantu.

Yang bersangkutan baru sekitar 6 bulan lalu di tinggalkan oleh suaminya yang meninggal akibat kecelakaan kerja dan diwarisi sebuah perusahaan.

Perubahan kebiasaan hidup yang begitu mendadak, harus membuat keputusan sendiri padahal biasa dilakukan bersama suami, membuat dirinya merasa sangat tertekan dan gamang apakah dia dapat mengatasi persoalan anak dan perekonomian keluarga sendirian.

Terutama saat malam hari ybs. merasa sangat kesepian dan depresi yang membuat dirinya merasa begitu putus asa dan ingin mengakhiri hidupnya. Perasaan sedih sering disertai rasa bersalah karena selama suaminya hidup ybs. merasa telah menyakiti suaminya, menjadikan suaminya sebagai sasaran kemarahan yang tidak beralasan.

Pada terapi pertama ditemukan penyebab depresinya adalah trauma perkosaan yang terjadi saat ybs. masih anak anak sehingga sekalipun ybs. telah memiliki suami yang sangat penyabar tidak mampu menyembuhkan perasaan marahnya pada sang pemerkosa.

Diduga justru kesabaran suaminya yang membuatnya merasa dapat menyalurkan amarahnya yang sering datang secara tiba tiba tanpa sebab yang jelas. Kalaupun ada penyebabnya, besar kemarahannya seringkali tidak proporsional dengan pemicu amarahnya.

Pada terapi kedua yang bersangkutan merasa depresinya telah hilang, namun rasa bersalah kesuaminya justru semakin menguat. Yang bersangkutan merasa menyesal karena telah menyia nyiakan kebaikan dan kesabaran suaminya.

Setelah dilakukan terapi guna menghilangkan rasa bersalah kepada suaminya, Alhamdulillah ybs. kini telah pulih, mampu bersikap realistis dan optimis. Bahkan ybs. telah beberapa kali merekomendasikan terapi SERVO pada beberapa teman dekatnya dan yang sangat menggembirakan beberapa waktu yang lalu ybs. melaporkan telah mulai menjalin hubungan dekat dengan seorang pria yang mengaguminya.

Selamat Berbahagia ya !

Siapa yang mengalami juga ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

2 Responses to “Rasa Bersalah ?”

  1. seri dewi Says:

    Assalamualaikum,pak saya menderita takut akan mati,kepala terasa penuh,jantung berdebar cepat,kaki terasa dingin,perut rasa penuh,mual dan seperti masuk angin.ap yg saya harus lakukan pak sementara saya ada diluar kota tepatnya bengkulu.

    • Servo Clinic Says:

      Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

      Apabila pemeriksaan secara medis dinyatakan sehat, maka keluhan yang dirasakan lebih bersifat psikis dan untuk ini sebaiknya di terapi.

      Walaupun berada di luar kota, terapi jarak jauh melalui HP tetap dimungkinkan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 465 pengikut lainnya.