Kami Perlu Informasi bukan Kritik ?

05/10/2008

  

Tidak ada kritik yang dapat membuat diri seseorang merasa nyaman, kecuali yang meminta dirinya sendiri.

Kritik seorang bos bagi seorang bawahan dapat dipersepsikan sebagai “hukuman” atau cacat prestasi. Kritik seorang suami terhadap istri dapat dipersepsikan sebagai “kegagalan” seorang istri, sebaliknya kritik seorang istri terhadap suami dapat dipersepsikan sebagai “perintah” atau sebagai upaya “mengatur” suami. Demikian pula terhadap anak tercinta Anda.

Seseorang mudah merasa tersinggung saat dirinya dikritik, hal tersebut disebabkan “harga dirinya” merasa diserang dan zona nyamannya terancam. Tidak ada hal lain yang lebih menyakitkan saat seseorang merasa dirinya tidak lagi dibutuhkan atau dibanggakan justru oleh orang yang paling disayangi ataupun dihormati.

Untuk itu jika Anda ingin memberikan masukan pada bawahan ataupun orang yang Anda sayangi, berikan “informasi” bukan kritik. Mulailah dengan mengatakan tentang persepsi Anda, bukan “amarah” Anda. Mulailah dengan menyampaikan keinginan Anda bukan kesimpulan Anda. Mulailah dengan awalan “Saya” bukan “Kamu”.

Misal “Maaf, saya (istri) merasa sesak oleh asap rokok kamu (suami)” atau “Kalau kamu ingin tau, saya ingin kamu berhenti merokok, tapi saya tidak dapat memaksa kamu”, bukan “Kamu mbok berhenti merokok, sudah uang belanjaan selalu kurang kok malah “dibakar” buat beli rokok”.

“Saya (atasan) sulit menemui kamu (bawahan) jam 8 pagi, apakah saya harus meminta bantuan orang lain ?” atau “Saya ingin kamu datang ke kantor tepat waktu” bukan “Kamu selalu terlambat, apakah kamu mau saya pecat ?”

“Sekarang sudah jam 5 sore, sepertinya mama belum melihat kamu (anak) sholat ?” atau “Mama kecewa kok kamu jam segini belum sholat” bukan “Kok kamu malas amat sih, jam segini kok belum sholat ?” “Papa tidak keberatan kamu main game, tetapi Papa lebih suka kalau kamu rajin belajar” bukan “Kamu kok kerjanya main game melulu ? Dasar bodoh, buang buang waktu saja!”

Informasi berbeda dengan Kritik !

Informasi dapat berisi keinginan ataupun “pesan” yang tidak mendikte, tidak memaksakan kehendak apalagi menghubungkan “motif” seseorang dengan sesuatu yang buruk. Untuk itu dimulai dari persepsi pribadi penyampai pesan yang mungkin saja salah, bukan dengan memberi “label” buruk pada seseorang, tanpa peluang membela diri.

Informasi memberikan “pilihan” bukan “perintah”. Hak pengambilan keputusan sepenuhnya ada pada orang yang dituju.

Ingin Cepat Berubah ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

One Response to “Kami Perlu Informasi bukan Kritik ?”

  1. unduk Says:

    Setuju pak, cuma lurah jaman orde baru yang masih beranggapan bahwa kritik dapat membangun.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 111 pengikut lainnya.