Bias Orientasi Seksual ?

19/12/2008

DISCLAIMER : Kisah nyata berikut ini tidak dimaksudkan sebagai jaminan bahwa hasil terapi yang dicapai akan sama pada setiap orang, karena setiap kasus bersifat individu, tergantung dari kesediaan klien untuk berubah dan seberapa cepat akar masalah ditemukan !

Datang ke S.E.R.V.O™ Clinic, Bayu (samaran) 31 tahun, seorang wiraswasta yang mengalami kebingungan dengan orientasi seksualnya. Di satu sisi ybs. memiliki rencana untuk menikah dengan lawan jenisnya namun secara bersamaan ybs. masih terus dibayang bayangi oleh orientasi seksual sejenisnya.

Peristiwa terakhir yang dirasakan sangat mengganggu adalah saat pasangan sejenisnya yang juga merupakan karyawannya berniat mengundurkan diri dan pindah kerja ke salah satu pesaingnya, Bayu merasa sangat cemburu dan dikhianati karena merasa telah memberinya pekerjaan dan banyak perhatian.

Saat wawancara terungkap, walaupun aktifitas seksual dengan pasangan sejenis dilakukan, namun ybs. mengaku tidak terlalu menikmatinya. Hal tersebut dimaksudkan hanya untuk menyenangkan hati pasangannya, demikian pula dengan banjir fasilitas ataupun hadiah agar ybs. tetap setia dan loyal kepada dirinya.

Sewaktu dilakukan penelusuran terhadap pengalaman seksual sejenisnya, terungkap bahwa telah terjadi kontak fisik sejenis yang dilakukan oleh kakak kelasnya, tidak lama berselang setelah ybs. kehilangan sahabat satu satunya sewaktu kecil akibat direbut oleh teman saingannya.

Setelah dilakukan terapi terhadap orientasi seksual sejenisnya, memang perasaan suka sejenisnya dapat hilang, namun perasaan cemburu terhadap karyawan tersebut tersebut tetap masih ada.

Pada terapi selanjutnya terungkap bahwa rasa cemburu tersebut merupakan projeksi ketidak relaan atas kehilangan sahabat satu satunya pada waktu kecil apalagi ybs. merasa memiliki hambatan komunikasi dengan teman lainnya. Hanya bedanya sekarang disertai perasaan sakit hati karena merasa telah memberi banyak kenikmatan berupa hadiah, fasilitas bahkan seksual kepada karyawan tersebut.

Dengan demikian pengalaman seksual sejenis tsb. hanyalah peristiwa ikutan walaupun di kemudian hari menimbulkan bias dalam orientasi seksual ybs. karena dalam situasi sedih akibat kehilangan satu satunya sahabat, muncul orang ketiga yang tampil seolah sebagai pelindung dan pengganti sahabat yang benar benar setia namun ternyata memiliki motif terselubung atau dengan kata lain ybs. telah dimanipulasi secara seksual.

Sewaktu dilakukan pencerminan ulang atas peristiwa tersebut ybs. baru menyadari bahwa kini dirinya yang melakukan manipulasi emosional hanya bedanya kali ini tidak dalam masalah seksual melainkan dalam bentuk hubungan atasan bawahan.

Setelah dilakukan penataan hati ulang, akhirnya ybs. dapat “melepaskan” karyawan tersebut dan mantap untuk menikah tanpa lagi harus di bayang bayangi dengan masalah orientasi seksual sejenisnya.

Siapa yang mengalami juga ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 436 pengikut lainnya.