Seorang wanita berusia 30 tahun mengeluh ketika berhubungan dengan suami tidak dapat mencapai orgasme, bahkan suami ejakulasi lebih dahulu, sehingga terpaksa melakukan masturbasi sesudah berhubungan.

Ybs. beranggapan, kesulitan mencapai orgasme tersebut disebabkan oleh kebiasaan masturbasi yang hampir dilakukan setiap hari, sejak di bangku kuliah dan setiap kali masturbasi selalu disertai orgasme berkali-kali.

Kesulitan mencapai orgasme tersebut sama sekali tidak berhubungan dengan kebiasaan onani, terbukti kepuasan tetap dapat dicapai, setelah melakukan masturbasi pasca berhubungan.

Tidak tercapainya orgasme saat berhubungan dengan suami lebih disebabkan oleh adanya kesenjangan antara hasil yang diinginkan (orgasme) dengan “kemampuan” yang dapat diberikan oleh suami. Belum lagi aktifitas masturbasi yang dilakukan sendiri memberikan rentang kendali yang lebih pasti dalam mencapai puncak dibanding hubungan yang melibatkan pasangan.

Sebaiknya hal tersebut di komunikasikan agar suami bersedia membantu sang istri mencapai puncak terlebih dahulu, baru kemudian dirinya. Namun jika hal tersebut malu untuk dibicarakan (berarti suami mengetahui kebiasaan masturbasi istri) maka tuntutan untuk selalu mencapai orgasme dapat diubah hanya sebagai pilihan (dapat diubah melalui terapi).

Tuntutan “harus” orgasme atau kecanduan orgasme tersebut, dapat disebabkan oleh adanya emosi yang terkunci pada peristiwa yang sangat nikmat seperti masturbasi setiap hari dan selalu orgasme berkali kali di masa lalu.

Ingin Bebas Kecanduan ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

4 Responses to “Kecanduan Orgasme ?”

  1. Gogik Says:

    Saya laki2 23 thn, 2 bulan menikah. Sejak tinggal di Jakarta, saya menjadi sering jelalatan, tidak bisa menahan mata untuk melihat, karena banyaknya orang yang memakai pakaian terlalu mini, bahkan di kantor, bahkan selalu membayangkan orang lain ketika berhub. dengan istri agar orgasme. Saya tidak ingin seperti ini, karena saya sangat mencintai istri saya.

    Bagaimana mengobati perilaku saya? Terima kasih.


  2. Standar kepuasan seksual ataupun fantasi seksual seseorang biasanya merujuk pada informasi, pengalaman ataupun imajinasi seksual sebelumnya dan mekanisme kerja sasaran “birahi” mirip dengan label, kemana Anda tempelkan, kesana pula ia “bekerja”.

    Berharap istri berubah menjadi seperti yang Anda inginkan belum tentu sesuai dengan jatidirinya namun mengkomunikasikan keinginan Anda, memprogram ulang standar kepuasan dan mengubah fokus sasaran seksual ke Istri Anda merupakan langkah yang positif.

    Sebaiknya di terapi !

  3. riska Says:

    saya wanita, usia 25 tahun, saat ini saya juga mengalami kecanduan orgasme seperti di atas, sulit rasanya bagi saya untuk menghilangkan kebiasaan ini, setiap kali saya mandi pagi saya selalu ter sugesti untuk kembali melakukan ini, walaupun saya sudah berniat menghilangkannya, saya mulai masturbasi sejak kelas 3 smp? apakah ini wajar atau libido saya terlalu tinggi? setahu saya biasanya hanya pria yang melakukan masturbasi, apakah wanita juga banyak yg seperti saya ini…


  4. Walaupun tidak sebanyak pria, wanita juga melakukan masturbasi.

    Perasaan selalu tersugesti untuk kembali melakukan kebiasaan tersebut (tidak dapat dikendalikan) menunjukkan adanya emosi yang “terkunci” akibat pengalaman sangat menyenangkan di masa lalu, apalagi jika aktivitas tersebut dilakukan pertama kali saat memiliki masalah.

    Kebutuhan untuk mencapai orgasme adalah wajar, namun jika hal tersebut tidak dapat dikendalikan, berpotensi mengganggu produktifitas sehari hari, dan jika aktivitas tersebut digunakan sebagai sarana lari dari masalah, praktis pertumbuhan emosional kita jadi terganggu.

    Sebaiknya di terapi !


Leave a Reply