Kecanduan Orgasme ?

10/02/2009

DISCLAIMER : Kisah nyata berikut ini tidak dimaksudkan sebagai jaminan bahwa hasil terapi yang dicapai akan sama pada setiap orang, karena setiap kasus bersifat individu, tergantung dari kesediaan klien untuk berubah dan seberapa cepat akar masalah ditemukan !

Seorang wanita berusia 30 tahun mengeluh ketika berhubungan dengan suami tidak dapat mencapai orgasme, bahkan suami ejakulasi lebih dahulu, sehingga terpaksa melakukan masturbasi sesudah berhubungan.

Ybs. beranggapan, kesulitan mencapai orgasme tersebut disebabkan oleh kebiasaan masturbasi yang hampir dilakukan setiap hari, sejak di bangku kuliah dan setiap kali masturbasi selalu disertai orgasme berkali-kali.

Kesulitan mencapai orgasme tersebut sama sekali tidak berhubungan dengan kebiasaan onani, terbukti kepuasan tetap dapat dicapai, setelah melakukan masturbasi pasca berhubungan.

Tidak tercapainya orgasme saat berhubungan dengan suami lebih disebabkan oleh adanya kesenjangan antara hasil yang diinginkan (orgasme) dengan “kemampuan” yang dapat diberikan oleh suami. Belum lagi aktifitas masturbasi yang dilakukan sendiri memberikan rentang kendali yang lebih pasti dalam mencapai puncak dibanding hubungan yang melibatkan pasangan.

Sebaiknya hal tersebut di komunikasikan agar suami bersedia membantu sang istri mencapai puncak terlebih dahulu, baru kemudian dirinya. Namun jika hal tersebut malu untuk dibicarakan (berarti suami mengetahui kebiasaan masturbasi istri) maka tuntutan untuk selalu mencapai orgasme dapat diubah hanya sebagai pilihan (dapat diubah melalui terapi).

Tuntutan “harus” orgasme atau kecanduan orgasme tersebut, dapat disebabkan oleh adanya emosi yang terkunci pada peristiwa yang sangat nikmat seperti masturbasi setiap hari dan selalu orgasme berkali kali di masa lalu.

Siapa yang mengalami juga ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/masalah-pasutri/

10 Responses to “Kecanduan Orgasme ?”

  1. Gogik Says:

    Saya laki2 23 thn, 2 bulan menikah. Sejak tinggal di Jakarta, saya menjadi sering jelalatan, tidak bisa menahan mata untuk melihat, karena banyaknya orang yang memakai pakaian terlalu mini, bahkan di kantor, bahkan selalu membayangkan orang lain ketika berhub. dengan istri agar orgasme. Saya tidak ingin seperti ini, karena saya sangat mencintai istri saya.

    Bagaimana mengobati perilaku saya? Terima kasih.

    • Servo Clinic Says:

      Standar kepuasan seksual ataupun fantasi seksual seseorang biasanya merujuk pada informasi, pengalaman ataupun imajinasi seksual sebelumnya dan mekanisme kerja sasaran “birahi” mirip dengan label, kemana Anda tempelkan, kesana pula ia “bekerja”.

      Sebaiknya diterapi !

  2. riska Says:

    saya wanita, usia 25 tahun, saat ini saya juga mengalami kecanduan orgasme seperti di atas, sulit rasanya bagi saya untuk menghilangkan kebiasaan ini, setiap kali saya mandi pagi saya selalu ter sugesti untuk kembali melakukan ini, walaupun saya sudah berniat menghilangkannya, saya mulai masturbasi sejak kelas 3 smp? apakah ini wajar atau libido saya terlalu tinggi? setahu saya biasanya hanya pria yang melakukan masturbasi, apakah wanita juga banyak yg seperti saya ini…

    • Servo Clinic Says:

      Walaupun tidak sebanyak pria, wanita juga melakukan masturbasi.

      Perasaan selalu tersugesti untuk kembali melakukan kebiasaan tersebut (tidak dapat dikendalikan) menunjukkan adanya emosi yang “terkunci” akibat pengalaman sangat menyenangkan di masa lalu, apalagi jika aktivitas tersebut dilakukan pertama kali saat memiliki masalah.

      Kebutuhan untuk mencapai orgasme adalah wajar, namun jika hal tersebut tidak dapat dikendalikan, berpotensi mengganggu produktifitas sehari hari, dan jika aktivitas tersebut digunakan sebagai sarana lari dari masalah, praktis pertumbuhan emosional kita jadi terganggu.

      Sebaiknya di terapi !

  3. satria Says:

    assalamuallaikum.wr.wb..pak Isywara Mahendratto.saya pria 29th,punya kelainan sexual (fetisme).dengan kata lain suka beronani dengan underwear wanita seperti bra&lingerie.jika sudah membayangkan saja saya cepat terangsang dan ingin berfantasi dengan underwear tsb.. kebiasaan ini sudah terjadi sejak saya SD.awalnya hanya biasa saja,namun tak terasa wktu saya duduk di bangku sma fantasi saya makin menggila hingga saat ini.. saya mohon bantuann solusi apa yang terbaik untuk saya.terus terang saja saya merasa sangat tersiksa dengan kebiasaan buruk saya ini.. terima kasih atas perhatian & jawaban bpk,wassalamuallaikum.wr.wb

    • Servo Clinic Says:

      Sama seperti bentuk bentuk kecanduan lain, kecanduan onani sambil berfantasi dengan underwear wanita (fetism) bukan merupakan masalah utama, melainkan hanya sarana pelarian yang nyaman akibat adanya kecemasan kronis.

      Untuk itu dengan ataupun tanpa bantuan profesional yang harus dicabut justru “duri” emosional yang menjadi penyebab timbulnya rasa cemas.

      Sebaiknya diterapi !

  4. hamba alloh Says:

    Permisi,
    Saya gadis berusia 15 thn, sejak dulu saya sering melakukan masturbasi, apakah jika saya melakukan masturbasi berarti saya sudah tidak perawan ?

    • Servo Clinic Says:

      Yang dapat memastikan apakah seseorang masih perawan atau tidak hanyalah seorang dokter, untuk itu silahkan hal tersebut dikonsultasikan kepada dokter.

  5. remond Says:

    Selamat malam pak.

    Saya mengalami masalah trauma akibat di ejek teman bahwa saya ini seorang homo sexsual, tapi saya merasa diri saya tidak begitu, karena saya tidak pernah berhubungan dengan sesama jenis.

    Saya merasa normal karena saya juga punya kekasih seorang cewe. Yang lebih masalah lg si A ini membeberkan kepada adik2 kos saya dan masalah ini berlanjut sampe ke kampus, makanya saya jd minder untuk bergaul.

    Cara mengatasi bagaimana pak, supaya saya bisa percaya diri. Kadang2 ini mengganggu sampe tidur saya pak dan di lingkungan sosial saya.

    Tolong pak solusinya ?

    • Servo Clinic Says:

      Jika ybs. mengejek secara langsung maka temui secara pribadi dan tanyakan apa maksud ybs. mengatakan demikian.

      Jika ybs. mengatakan bahwa hal tersebut cuma bercanda, katakan kalau diri Anda lebih suka jika tidak becanda demikian karena berpotensi menimbulkan salah persepsi.

      Jika Anda tidak mendengarkan secara langsung, sebaiknya dikonfirmasikan terlebih dahulu kepada ybs. dan jika ybs. tidak mau mengaku, abaikan saja. Insya Allah cepat atau lambat orang lain akan mengetahui jati diri Anda yang sebenarnya.

      Jika perasaan terganggu masih tidak bisa hilang juga, sebaiknya diterapi !


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 558 pengikut lainnya.