Rindu Diomelin ?

24/02/2009

DISCLAIMER : Kisah nyata berikut ini tidak dimaksudkan sebagai jaminan bahwa hasil terapi yang dicapai akan sama pada setiap orang, karena setiap kasus bersifat individu, tergantung dari kesediaan klien untuk berubah dan seberapa cepat akar masalah ditemukan !

Suatu pagi, saya sedang melakukan terapi jarak jauh (melalui telpon) kepada salah seorang klien saya yang sedang mengalami problem kecemasan.

Lagi asyik asyiknya proses terapi berjalan, tiba tiba saya mendengar suara wanita yang sedang marah marah di belakang suara klien saya. Pada awalnya saya berpikir sedang ada konflik antara klien saya dengan pasangannya dan karena hal tersebut bersifat sangat pribadi maka saya tidak bermaksud mencampuri urusan keluarga tersebut.

Hal tersebut berlangsung singkat dan klien saya kembali melanjutkan pembicaraannya dengan saya. Tidak lama kemudian terdengar lagi suara wanita yang sama sambil marah marah dan kali ini ybs. menjawabnya persis seperti sedang menjawab pertanyaan melalui HP.

Karena mulai terasa mengganggu, saya menanyakan :”Ma’af, tadi yang marah marah siapa ?” Oleh klien saya dijawab :”Ooh…. itu suara ring tone HP saya yang satunya dan sambungan tersebut berasal dari istri saya.”

Dari peristiwa tersebut saya justru mendapat ide untuk menelusuri riwayat kecemasannya, lebih jauh. Apakah istri Anda sehari hari suka marah marah dan apakah ibu Anda dulunya juga demikian ? Diperoleh jawaban bahwa pada waktu kecil, ybs. sering merasa malu jika ibunya marah marah, karena hampir orang sekampung mengetahuinya.

Rupanya tanpa disadari ybs. melakukan reaksi pembalikan (reversal) dengan mengubah status ego dari aktif menjadi pasif, mengubah keinginan perasaan dan impuls yang menimbulkan kecemasan menjadi ke arah diri sendiri (turning upon around self) atau seperti reaksi formasi dengan obyek yang spesifik (pada reaksi formasi perasaan yang dibalik di generalisasikan kepada objek yang luas). Sehingga benci kepada ibu yang pemarah, dibalik menjadi benci kepada diri sendiri atau dibalik menjadi rindu diomelin sang ibu.

Selanjutnya hal tersebut justru diperluas dengan perasaan tenang jika sudah dimarahin oleh sang istri ataupun orang lain dan bisa jadi hal tersebut dirasa kurang intens, sehingga dirasa perlu menambahkannya dengan nada dering suara wanita yang sedang marah marah di HP.

Setelah diminta untuk membuang nada dering tersebut serta dilakukan kalibrasi ulang terhadap peristiwa memalukan saat dimarahi oleh sang Ibu, Alhamdulillah ybs. sekarang merasa lega.

Siapa yang mengalami juga ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 462 pengikut lainnya.