Rumah Tangga yang Harmonis ?

29/05/2012

Pada setiap peristiwa perkawinan, sering kita mendengar harapan ataupun doa yang disampaikan oleh sang pembawa acara (MC) ataupun ustad : “Semoga menjadi keluarga yang sakinah dan seterusnya”

Secara harfiah arti sakinah adalah tenang dan secara psikologis dapat dimaknai sebagai pribadi yang dapat menjadi “sumber” nyaman bagi anggota keluarga lainnya atau dengan kata lain sang suami menjadi sumber nyaman bagi istrinya, sang istri menjadi sumber nyaman bagi suaminya, begitu pula dengan sang anak menjadi sumber nyaman bagi kedua orang tuanya dan sang orang tua menjadi sumber nyaman bagi anak-anaknya.

Namun pada kenyataannya, tidak jarang yang terjadi justru sebaliknya, sang suami menjadi sumber “stress” bagi istrinya, misal kurang perhatian, kurang peduli, kurang penghasilan dsb. atau sang istri menjadi sumber “stress” bagi suaminya, misal suka mengatur, pencemburu, suka melarang dsb., begitu pula sang orang tua menjadi sumber “stress” bagi anaknya, misal suka ngomel, memaksa belajar dsb. dan sang anak menjadi sumber “stress” bagi orang-tuanya, misal suka berbohong, suka membantah dsb.

Jika sudah demikian hampir dipastikan, tujuan pernikahan menjadi keluarga yang sakinah dan seterusnya tidak akan pernah terwujud karena lembaga keluarga telah berubah menjadi “neraka” yang tidak bisa di hindari satu sama lain.

Bayangkan kita cuma diberi dua pilihan yang sama buruknya yaitu selalu serumah dengan sumber “stress”  atau menjauh dari sumber “stress” yang berujung pada perceraian.

Itu sebabnya menjadi penting bagi pasangan yang baru menikah, untuk mencari tau hal apa saja yang dapat menjadikan diri kita sebagai sumber nyaman bagi pasangan ataupun buah hati tercinta, antara lain :

  1. Miliki sumber daya minimum keluarga seperti akses informasi, pendidikan, pekerjaan, kesehatan dsb.
  2. Bersedia untuk tidak memaksakan kehendak melainkan saling menghargai sifat ataupun kebiasaan anggota keluarga lain
  3. Bersedia untuk menjadikan diri “berguna” bagi anggota keluarga lainnya.
  4. Belajar keterampilan berkomunikasi yang baik dan menyenangkan antar anggota keluarga.
  5. Pastikan diri kita terbebas dari gangguan kecemasan seperti ketakutan, fobia, kecanduan, kebiasaan buruk, insomnia, gampang panik dsb.

Dengan demikian masing masing anggota keluarga dapat tetap merasa menjadi dirinya sendiri dan kalaupun ingin membahagiakan anggota keluarga lainnya, inisiatif ataupun kesadaran berubah harus datang dari dalam dirinya, bukan karena terpaksa apalagi dipaksa oleh anggota keluarga lainnya.

Insya Allah masing masing pihak dapat menjadi “surga” bagi anggota keluarga lainnya.

Ingin keluarga harmonis ? KLIKhttp://servoclinic.com/kesaksian/gangguan-cemas/

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 411 pengikut lainnya.