Jaminan ?
25/08/2010
Sebagai seorang remaja, apakah Anda merasa tidak suka jika terlalu banyak diatur ataupun dinasihatin orang tua ?
Apakah Anda merasa dikekang, diperlakukan seperti seorang anak kecil yang tidak tau apa apa, bahkan seperti seorang bayi yang harus “menelan mentah” semua hal yang dipandang baik orang tua.
Tapi tahukah Anda, sikap “menyebalkan” tersebut sesungguhnya merupakan bentuk perhatian dan kasih sayang orang tua kepada Anda, hanya saja disampaikan dengan cara yang jadul, kalau tidak dapat disebut kuno.
Mereka sangat khawatir dengan keselamatan dan masa depan Anda, mengingat maraknya penyalah-gunaan narkoba, pergaulan bebas, tindak kriminal dsb., sementara tidak ada satu pihakpun yang dapat menjamin, bahwa sekolah anaknya akan semakin berprestasi, ibadahnya akan semakin baik, bergaulnya tidak salah jalan, kesehatannya terjaga dsb. ?
Jika inisiatif untuk membicarakan hal tersebut tidak datang dari orang tua, mengapa bukan Anda yang justru memulainya ?
Datangi dan minta waktu mereka untuk membicarakan persoalan Anda, lalu tanyakan “Apakah yang menjadi kekhawatiran Papa-Mama adalah sekolah saya yang akan terganggu, ibadah saya yang akan kacau, pergaulan saya yang salah jalan, atau kesehatan saya yang jadi terganggu ?”
“Jika ya, beri kepercayaan penuh pada saya dan saya jamin tidak akan menyalah gunakan kepercayaan tersebut !”
Percayalah, saat itu pula orang tua Anda akan merasa tenang dan Andapun berpeluang memperoleh kebebasan yang tidak Anda duga sebelumnya !
Tapi pegang amanah mereka karena sekali lancung keujian, berpotensi seumur hidup orang-tua tidak percaya !
Ingin Cepat Berubah ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/
Imunitas Perubahan ?
25/08/2010
Menarik untuk disimak buku “Menyingkap Imunitas Perubahan” karya Penulis Robert Kegan & Lisa Laskow Lahey (Resensi Buku, Pustakaloka Kompas, Rabu 25 Agustus 2010).
Diungkapkan bahwa pada tahun 1995, John Kotter, ahli kepemimpinan dan perubahan, menunjukkan kenyataan pahit bahwa 75 persen dari proses perubahan, gagal.
Sepuluh tahun kemudian, survei McKinsey & Co yang dilakukan kepada hampir 2000 eksekutif bisnis di seluruh dunia, menunjukkan hasil yang sama.
Mungkin teman teman manajer SDM juga merasakan hal yang sama, bahwa banyak pelatihan motivasi dirasa tidak berhasil mengubah perilaku kerja karyawan.
Demikian pula pengalaman kami sebagai terapis menunjukkan, bahwa perubahan sikap dan perilaku seseorang tidak dapat dicapai melalui buku buku motivasi, induksi semangat “saya bisa”, outbound, dorongan semangat ataupun ancaman yang lebih berorientasi pada pengaktifan otak kiri atau olah nalar, melainkan dari pembebasan emosi yang terkunci serta penataan ulang persepsi.
Robert Kegan yang meneliti bidang ini lebih dari 25 tahun berhasil menunjukkan bahwa penghambat terbesar perubahan terletak di sisi emosional, psikologis yang tidak disadari.
Dengan demikian, seseorang yang sulit berubah, letak persoalannya bukan pada ada tidaknya penghargaan, melainkan pada hambatan pribadi yang membuat dirinya sulit berubah.
Begitu pula pada seseorang yang takut melakukan presentasi, letak persoalannya bukan pada materi presentasinya, melainkan pada “nyalinya”.
Ingin Cepat Berubah ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/
Rasa Bersalah ?
25/08/2010
Pernah nonton sepakbola kampungan ?
Biasanya saat bola berhasil direbut lawan main, sang pemain yang bolanya diserobot berusaha mati matian mengejar bola, mungkin karena merasa malu “terlihat bodoh” oleh teman regu lainnya.
Hal tersebut merupakan mekanisme pertahanan bawah sadar yang bekerja secara otomatis, guna mengurangi perasaan bersalah seseorang, akibat tidak melakukan tugasnya dengan baik.
Namun perilaku tersebut sangat jarang terlihat pada pemain sepak bola kelas dunia dan mereka justru terlihat sangat terampil menguasai bola sehingga tidak mudah direbut lawan.
Analog dengan cerita di atas, kita memang tidak dapat berharap banyak dari pimpinan yang bersikap reaktif seperti baru naik gaji setelah didemo, baru ngurusin rakyat setelah dihujat dsb. karena berpikirnya hanya baru pada tingkat memikirkan dirinya sendiri.
Untuk itu tidak ada cara lain kecuali kita sendirilah yang berubah, mulai sekarang !
Ingin Cepat Berubah ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/
Cara Menangkal Hipnotis ?
24/08/2010
Kejahatan menggunakan hipnotis kembali marak, kali ini terjadi di sebuah minimarket Soekarno Hatta di Bandar Lampung.
Seperti yang sempat terekam oleh kamera CCTV minimarket, kejahatan tsb. dilakukan dengan cara yang teramat santai, dimana kasir dan beberapa karyawan dihipnotis sekaligus.
Selain mengambil uang yang terdapat di mesin kasir, uang yang terdapat dalam brandkas yang disimpan di ruang dalam minimarketpun turut dikuras.
Hal tersebut terjadi dengan mudah karena kasir ataupun karyawan yang sudah terhipnotis, merasa tidak berdaya untuk melawan pengaruh hipnotis, persis seperti kerbau di cucuk hidungnya.
Ada dua cara yang dapat dilakukan karyawan minimarket yaitu mencegah agar dirinya tidak dapat dihipnotis serta menguasai teknik memutuskan pengaruh hipnotis saat berada di bawah pengaruh hipnotis.
Untuk pencegahan, lakukan pemrograman diri (self hypnosis) pada “waktu emas” yaitu saat menjelang tidur ataupun bangun tidur dengan menanamkan afirmasi “Mulai sekarang, Saya memegang kendali penuh atas perasaan saya dan menolak dihipnotis !”.
Saat kita merasa, diri kita ataupun teman kita berada di bawah pengaruh hipnotis, cara paling mudah memutuskannya adalah dengan memerintahkan diri kita ataupun teman kita agar pada hitungan ketiga, kembali ke kesadaran semula dan sadar penuh, lalu mulai hitung 1…2…. dan pada hitungan ketiga tepukkan tangan Anda bersamaan.
Atau mintalah bantuan profesional untuk menanamkan penangkal hipnotis di pikiran bawah sadar karyawan Anda !
Ingin Menangkal Hipnotis ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/
Penyerobot ?
23/08/2010
Apa yang Anda lakukan saat antrian Anda di serobot orang lain ?
Apakah Anda akan membiarkannya, karena tidak ingin ribut namun hati tetap mendongkol, atau sebaliknya, ketidak senangan Anda diungkapkan dengan marah marah ?
Walau si penyerobot memiliki banyak alasan, seperti antrian yang tidak jelas, sedang buru buru, teman baik dengan kasir dsb. namun hal tsb. tidak dapat dijadikan ijin ybs. untuk menyerobot.
Tindakan yang dapat Anda lakukan adalah mengingatkan penyerobot secara bertingkat mulai dari cara yang paling halus hingga tegas, tapi tanpa perlu marah marah, misal :
- gunakan bahasa tubuh yang menunjukkan bahwa Andalah pemilik antrian berikutnya,
- jika tidak ditanggapi, katakan terus terang namun sopan kepada penyerobot, bahwa Anda sudah lebih dulu mengantri
- jika tidak ditanggapi juga, tegaskan ke kasir bahwa Andalah pemilik antrian berikutnya
- namun jika tidak juga ditanggapi kasir, ikhlaskan atau Anda dapat komplain ke atasan kasir, karena Anda memang sedang berurusan dengan perusahaan yang buruk.
Tidak penting apakah si penyerobot, kasir ataupun atasan kasir mau menanggapi, apalagi meminta maaf pada Anda, tapi setidaknya Anda telah menyampaikan yang seharusnya Anda sampaikan.
Kerusakan tidak pada “sirkuit oxxx” Anda !
Ingin Bisa Tegas ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/
Beda Malas dan Rajin Kerja ?
23/08/2010
Bagi seorang pemalas, pekerjaan merupakan sumber stres dan bagi yang rajin justru merupakan suatu hal yang menyenangkan.
Pemalas cenderung menunda pekerjaan dan baru mengerjakannya di menit menit terakhir, sementara si rajin cenderung menyelesaikannya pada kesempatan pertama.
Seorang pemalas berorientasi pada pengalaman buruk di masa lalu, sementara seorang yang rajin lebih berorientasi pada impian masa depan.
Seorang pemalas tidak suka membuat rencana dan menghindari target namun seorang rajin justru menjadikan rencana sebagai sarana mencapai target.
Seorang pemalas lebih memilih tidak punya keinginan agar tidak kecewa, seorang yang rajin lebih memilih punya harapan daripada tidak sama sekali.
Seorang pemalas lebih suka mengeluh dan menyalahkan orang lain ataupun situasi, daripada melakukan evaluasi diri, sementara si rajin justru memilih sebaliknya.
Padahal keduanya sama sama memiliki persamaan yaitu sama sama menderita jika berada di jalan yang salah dan sama sama bahagia jika berada di jalan yang benar.
Yang membedakannya adalah, si pemalas membiarkan dirinya terus keliru, sementara si rajin justru memperbaikinya.
Ingin Berubah Rajin ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/





