Insomnia kok malah Disuruh Tidur ?
06/07/2010
Sulit tidur atau susah tidur bagi profesi tertentu yang waktu kerjanya fleksibel seperti penulis buku, seniman, wiraswastawan atau karyawan yang bekerja di kantor yang menerapkan flexi-time bisa jadi tidak terlalu masalah.
Namun hal tersebut bisa jadi berbeda bagi profesi tertentu yang mensyaratkan tidur sebagai basis ketelitian seperti pilot, dokter atau karyawan yang bekerja di kantor yang menerapkan fixed-time.
Tidak jarang, semakin Anda “berusaha” menidurkan diri, Anda justru merasa semakin terjaga dan gelisah, apalagi jika esok paginya Anda harus berangkat ke kantor atau meeting dengan klien Anda.
Mata terasa sulit untuk dipejamkan, tubuh tidak dapat di-istirahatkan dan pikiran terus bekerja. Seperti sebuah lingkaran setan, semakin kurang tidur Anda, Anda semakin cemas dan kecemasan tersebut justru membuat Anda semakin sulit tidur.
Bisa jadi Anda sudah pernah mengatasinya sendiri dengan mengkonsumsi suplemen atau obat tidur tertentu, namun sering hal tersebut dirasa tidak membantu, karena tidur terasa tidak ”tuntas”, tubuh tetap lemas dan pikiran seperti “lemot”.
Apabila Anda termasuk kelompok yang yakin bahwa insomnia Anda lebih disebabkan oleh faktor psikis/emosional, tidak suka mengkonsumsi suplemen/obat obatan apalagi jika secara medis Anda dinyatakan sehat, Anda dapat meminta bantuan profesional untuk mengatasi keluhan tersebut.
Pastikan Anda menemui hipnoterapis yang tepat dan berpengalaman, karena diperlukan keahlian khusus untuk menangani insomnia, tanpa harus meminta Anda melakukan tidur hipnosis (Insomnia kok malah disuruh tidur….).
Ingin Bebas Insomnia ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian-insomnia/
Bahaya Kecanduan Seks ?
03/05/2010
JAKARTA, KOMPAS.com — Problem seks sangat beragam. Gangguan bisa dimulai dari hasrat yang tidak menyala, sakit saat berhubungan intim, hingga gangguan ereksi. Banyak di antara gangguan itu dapat diatasi menggunakan obat dan terapi. Namun, salah satu gangguan seks yang tergolong sulit dihadapi adalah kecanduan.
Kecanduan seks (sexual addiction) sering dianggap bukan merupakan masalah bagi banyak orang. Padahal, bagi penderita dan pasangan hidupnya, gangguan itu bisa sangat merusak. Tidak hanya merusak kehidupan pribadi penderitanya, tetapi juga lingkungan sosial, keluarga, dan terutama pasangan hidup penderita (baca boks: Bentuk Kecanduan dan Akibatnya).
Menurut para ahli, kecanduan seksual adalah kegiatan seks yang sesuai ukuran kelaziman tergolong di luar kendali. Pengidap kecanduan seks merasa terdorong untuk mendapatkan dan membenamkan diri dalam kegiatan seksual, meski menyadari semua risiko yang mungkin dihadapi.
Seks bisa menimbulkan kecanduan sebagaimana alkohol dan obat-obat terlarang. Saat berkegiatan seks, tubuh melepaskan senyawa kimia yang membuat tubuh kita menjadi nyaman. Sejumlah orang menjadi kecanduan untuk mengeluarkan senyawa kimia ini dan menjadi terobsesi untuk mendapatkan lagi dan lagi dan lagi, rasa nyaman yang ditimbulkan.
Sebagaimana kecanduan terhadap yang lainnya, tubuh semakin terbiasa dengan terlepasnya senyawa kimia tersebut. Tubuh pecandu butuh jumlah yang semakin banyak, semakin banyak, dan semakin banyak, yang artinya merasa butuh ngeseks terus, tak pernah ada puasnya.
Di antara terpenuhinya kebutuhan seksual dan senyawa kimia yang tinggi, muncullah keterpurukan. Hal ini sering dikenali dengan adanya perasaan malu, menyesal, menderita, memelas, dan gelisah. Pengidap kecanduan bisa merasa terpencil, terisolasi, dan tak berdaya untuk mengubah perilakunya. Nah, seiring dengan terus berputarnya lingkaran tak berujung itu, pengidap kecanduan terus berupaya mendapatkan seks sebagai upaya untuk melarikan diri dari perasaan yang membelenggu.
Lebih dari 6 persen Menurut perkiraan konservatif, 3 hingga 6 persen dari populasi masyarakat mengidap kecanduan seks dan 20 persen di antaranya adalah wanita. Mereka berasal dari berbagai lapisan masyarakat. Namun, angka tiga hingga enam persen itu diperkirakan terlalu rendah dari jumlah pengidap sesungguhnya.
Mengingat kecanduan seks lazim disertai dengan perasaan malu dan tercela, menurut situs milik Dr Patrick Carnes, seorang konsultan dan pakar kecanduan seks terkemuka, www.sexhelp.com, pengidap jadi sering menemukan kesulitan untuk mendapatkan pertolongan. Karena alasan ini pula, tipe profil penderita kecanduan seks sulit didapatkan.
Sejak dibukanya internet dengan aneka jasa layanan seksual yang murah tanpa harus membuka identitas diri peminatnya, para ahli hanya bisa tahu bahwa pengidap kecanduan seks itu meningkat tajam tanpa tahu persis jati diri mereka. Dengan terbatasnya layanan pertolongan bagi penderita, para ahli berpendapat jumlah penderita kecanduan seks itu akan terus meningkat.
Lalu, seperti apakah tanda-tanda dari mereka yang menderita kecanduan seks? Dr Patrick Carnes mengisyaratkan adanya 10 kemungkinan tanda yang perlu diwaspadai:
1. Merasakan bahwa perilaku Anda tidak terkendali.
2. Sadar bisa muncul akibat yang parah bila Anda terus berlanjut dengan perilaku itu.
3. Merasa tak sanggup menghentikan perilaku Anda meski sadar akan akibatnya.
4. Tetap memburu kegiatan yang destruktif dan /atau berisiko tinggi itu.
5. Terus berharap akan menghentikan atau mengendalikan apa yang Anda lakukan dan bertindak aktif untuk membatasi kegiatan berbahaya yang Anda lakukan.
6. Menggunakan fantasi-fantasi seksual sebagai cara untuk mengatasi perasaan atau situasi sulit.
7. Butuh ngeseks terus-menerus agar selalu merasa nikmat.
8. Menderita akibat perasaan yang terus bergejolak di seputar kegiatan seks.
9. Menghabiskan banyak waktu guna merencanakan, melakukan, atau menyesali dan melakukan lagi kegiatan seksual.
10. Mengabaikan kegiatan sosial, kegiatan kantoran, dan kegiatan rekreasional yang penting demi seks.
Perlu mengakui Bila Anda melihat ada salah satu dari tanda-tanda di atas yang terdapat dalam perilaku Anda, langkah terpenting yang dapat dilakukan adalah mengakui bahwa kecanduan seksual adalah suatu problem yang nyata dan tidak bisa hilang begitu saja atau akan hilang dengan sendirinya. Anda harus memilih sikap bertanggung jawab secara pribadi demi pulihnya gangguan yang bisa jadi sedang Anda alami.
Umumnya pengidap gangguan seks memang merasa kesulitan untuk mengubah sendiri perilaku mereka. Namun, setidaknya sedikit demi sedikit Anda harus mampu meminimalisasi perilaku sebagaimana tergambar pada tanda-tanda di atas meski kadang siklus datangnya dorongan untuk mengulangi perbuatan terlalu kuat untuk dilawan. Seorang terapis profesional dapat membantu Anda untuk memahami apa yang sesungguhnya terjadi dan mendorong Anda mengambil langkah untuk berubah menuju ke gaya hidup seksual yang lebih sehat.
Sebaliknya, bila Anda menduga bahwa pasangan hidup Anda adalah penderita kecanduan seks, sudah seharusnya Anda membantu untuk mengubah perilaku tersebut. Sikap mental yang perlu Anda persiapkan untuk diri sendiri adalah, tak seorang pun akan sembuh dari kecanduan kecuali menerima bahwa mereka mengidap suatu gangguan dan ingin berubah. Karena itu, bantulah memperkuat tekad pasangan Anda yang kecanduan agar semakin kuat kemauannya untuk melakukan perubahan.
Memang repot, menyakitkan, dan membingungkan punya pasangan yang kecanduan seks. Kalau di masyarakat Barat, bahkan tersedia bantuan bagi mereka yang memiliki pasangan pecandu seks. Bantuan itu bisa bersifat pribadi maupun dalam bentuk kelompok pendamping (support group).
Nah, meski di sini belum tersedia layanan seperti itu, Anda bisa ngintip-ngintip mencari wawasan, misalnya saja ke Sex Addicts Anonymous, situs internasional yang menyediakan informasi bantuan dari Inggris di www.saa-recovery.org atau di British Association of Sexual and Relationship Therapists, yang menawarkan direktori terapis seks pribadi di: www.basrt.org.uk. Bentuk kecanduan dan akibatnya
Kecanduan seks dapat memperlihatkan berbagai bentuk, tetapi umumnya dikenali dari perilaku yang terasa di luar kendali. Perilaku ini mencakup:
- Menghabiskan banyak waktu untuk menikmati produk-produk pornografi
- Masturbasi tak terkendali
- Ekshibisionisme
- Voyeurisme
- Fetishes
- Seks berisiko tinggi
- Pelacuran
- Telepon seks dan ngeseks lewat internet
- Perselingkuhan
- Berhubungan seks dengan pasangan yang baru saat itu dikenal
Menurut Dr Carne, survei mengungkapkan akibat dari perilaku kecanduan seks, antara lain:
70 persen mengalami gangguan yang parah dengan pasangan hidupnya 40 persen kehilangan pasangan hidup 27 persen kehilangan peluang dalam karier 40 persen mengalami kehamilan yang tak diinginkan 72 persen terobsesi ingin bunuh diri 17 persen mencoba bunuh diri 68 persen terkena penyakit menular seksual.
Sumber : Kompas.com
Kesaksian ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/
Pemberantasan Korupsi ?
05/04/2010
Ada banyak teori mencoba menganalisa penyebab korupsi dan solusinya.
Jika kasus Gayus nantinya terbukti, dugaan awal akibat gaji kecil ternyata tidak membuat institusi pajak terbebas dari praktek korupsi, sekalipun sudah dilakukan perbaikan renumerasi yang dapat membuat iri sesama pegawai negeri lainnya.
Demikian pula dengan ancaman hukuman, meski sudah cukup banyak penyelenggara negara yang dipecat bahkan ditangkap dan dipenjara karena kasus suap, ternyata tetap tidak memberi efek jera dan ironisnya banyaknya pihak yang diduga terlibat, mengindikasikan korupsi dilakukan secara berjamaah dan sistemik.
Selain dugaan adanya kegagalan dalam sistem pengelolaan negara, mulai dari pola perekrutan, pengembangan karir, renumerasi, pengawasan dsb., secara individual patut diduga adanya gangguan jiwa sang pelaku yang dikemudian hari menemukan zona nyamannya melalui tindakan korupsi.
Dengan demikian perilaku korup hanyalah “akibat” dari serangkaian kegagalan pengendalian proses paling dini mulai dari pola asuh yang keliru, pendidikan yang terlalu berorientasi pada tujuan sehingga masyarakat “tidak siap” dalam menghadapi perubahan zaman yang dipenuhi semangat hedonisme dan konsumerisme dsb.
Ibarat saat indikator bensin kendaraan menunjukkan di level “low”, apakah Anda akan memukul mukul indikatornya agar naik, atau segera membawanya ke pom bensin (baca : mengatasi akar masalahnya).
Mengapa tidak kita mulai saja dari pendidikan “kecerdasan emosional” atau “manajemen diri” ?
Ingin Cepat Berubah ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/
Sumber Stres ?
23/02/2010
Sumber stres merupakan semua situasi, kondisi, peristiwa yang tidak kita inginkan ataupun tidak kita ijinkan menjadi bagian dari pengalaman emosional kita.
Itu sebabnya sumber stres biasanya sejauh mungkin dihindari dan jika tidak memiliki pilihan, melalui mekanisme pertahanan diri tubuh bereaksi tegang, berdebar debar, nafas lebih cepat, gugup, gelisah dan negatif terhadap sumber stres tsb.
Sumber stres bagi setiap orang berbeda beda dan bersifat unik, tergantung dari pengalaman ybs. dalam berinteraksi dengan sumber stres sebelumnya serta bagaimana mempersepsikannya. Contoh : pengalaman ditolak teman sepermainan saat kecil dikemudian hari berpotensi menjadikan orang sekitar sebagai sumber stres, pengalaman perceraian orang tua di masa lalu berpotensi menjadikan keluarga sebagai sumber stres.
Idealnya setiap individu memiliki keterampilan tentang bagaimana mengatasi setiap persoalan sehingga dapat terus tumbuh, sayangnya tidak banyak keluarga Indonesia yang memahami betapa pentingnya hal tersebut serta masih langkanya pendidikan tersebut di Indonesia, akibatnya keterampilan mengelola sumber stres lebih bersifat untung untungan.
Untuk itu pastikan Anda mulai mengenali perasaan perasaan Anda, fahami perasaan negatif tersebut hanyalah sinyal tubuh Anda (bukan masalah utamanya itu sendiri) yang menginformasikan ada yang salah dalam cara Anda mensikapi persoalan Anda.
Kemudian dengan ataupun tanpa bantuan orang lain mulailah mencari akar masalah dan temukan solusinya. Jangan habiskan enerji Anda untuk berkeluh kesah (curhat) yang walau dapat memberikan kelegaan semu sesaat, namun justru membuat Anda semakin terpuruk, negatif dan menderita.
Ingin Cepat Berubah ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/
Servo Menikah ?
27/01/2010
Tidak ada yang lebih membahagiakan saat sepasang kekasih memutuskan untuk menikah.
Dengan menikah, seorang kekasih merasa memiliki belahan jiwanya dan dengan menikah pula seseorang kekasih dapat mengekspresikan jati-dirinya kepada pasangannya secara penuh dan utuh.
Akan tetapi sebagai sepasang kekasih apakah Anda benar benar SIAP untuk menikah ?
Satu hal yang perlu diingat adalah yang membuat Anda sepakat untuk menikah adalah Anda menemukan banyak persamaan dengan pasangan Anda atau setidaknya Anda berdua percaya bahwa masing masing pihak bersedia untuk menerima segala kelebihan dan kekurangan pasangannya serta saling melengkapi satu sama lain.
Namun, apakah Anda siap untuk menyaksikan kebiasaan kebiasaan ataupun kekurangan pasangan Anda yang selama pacaran “berhasil” disembunyikan dan apakah Anda siap untuk mengubah kebiasaan pribadi Anda menjadi kebiasaan kebiasaan keluarga ?
Apakah Anda siap untuk berkomunikasi secara sehat, tidak memaksakan kehendak Anda atau siap untuk tidak mengubah pasangan Anda menjadi seperti yang Anda inginkan ?
Apakah Anda siap secara mental mengatasi persoalan Anda berdua dengan sesedikit mungkin melibatkan keluarga masing masing pihak, serta menghadapi perbedaan pendapat dengan pihak ipar ataupun mertua, jika ada ?
Apakah Anda berdua siap untuk menjadi pasangan/tim yang solid saat badai keluarga yang mungkin saja datang menerpa, seperti problem keuangan, gangguan kesehatan, masalah anak, problem pekerjaan dsb., bukan justru saling menyalahkan satu sama lain ?
Jika belum siap, mulailah mempersiapkannya sejak sekarang melalui buku/majalah keluarga, browsing internet, pelatihan pra wedding atau di S.E.R.V.O Aja !
Ingin Siap Menikah ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/
Remaja Gelisah Tanpa Sebab ?
25/11/2009
Sebagai seorang remaja, apakah saat ini adik adik merasa kurang percaya diri, tegang dihadapan orang lain, grogi, linglung, bawaannya lemas, mau muntah..kalau grogi…sulit berbicara, tidak konsentrasi, lemas, jantung berdebar-debar ?
Padahal dulunya adik adik penuh percaya diri, bercita cita tinggi, rajin, penuh semangat, aktif mengikuti kegiatan ekskul, menyenangi hal hal yang menantang seperti presentasi di depan orang banyak, pidato, teater, puisi.
Tapi entah kenapa sekarang justru suka menghindar, tidak bersemangat, berhadapan dengan guru saja gugup, selain itu setiap kali saat ulangan merasa gugup..tegang, tidak bisa berfikir, buyar semua materi yang sudah dipersiapkan, padahal sebelumnya sudah dikuasai.
Akibatnya adik adik jadi sering menangis, seperti beban mental, kayak orang stres, pendiam, murung, sering menyendiri, males sekolah.
Jika ya berarti adik-adik sedang mengalami gangguan kecemasan yang lazim dirasakan para remaja saat dalam proses pencarian identitas atau jati-diri dimana pada usia pancaroba tersebut terjadi antara lain :
- perubahan hormon seksual dan hormon pertumbuhan yang lagi aktif aktifnya
- ingin diakui keberadaan/eksistensi-nya, namun sekaligus gamang menghadapi tantangan baru
- peralihan dari dunia ”bermain” ke dunia yang dalam beberapa hal mulai menuntut tanggung-jawab
- tidak memiliki cukup pengetahuan tentang keterampilan hidup (life skill) seperti :
- bagaimana menetapkan sasaran, keinginan atau target
- bagaimana membuat perencanaan atau menemukan cara
- bagaimana harus bertindak
- bagaimana bersikap jika hasil tidak sesuai keinginan
- bagaimana mengatasi penolakan
- bagaimana bekerja sama atau berkomunikasi dengan teman lain
- dsb.
Solusi :
- Sadari bahwa semua perasaan negatif hanyalah “sinyal” tubuh yang sedang memberitau kita sedang berjalan ke arah yang salah. Untuk itu kenali nama “perasaan negatif” tersebut apakah berupa rasa takut, rasa marah, rasa iri, rasa bersalah dsb, lalu cari akar masalah dan kemudian pecahkan
- Adik adik tidak sedang gagal, melainkan belum menemukan “cara” yang tepat dalam mensikapi persoalan. Jika hasil belum sesuai dengan yang diinginkan, masuklah ke lorong sabar sambil ”mengubah” cara. Ulangi terus sampai hasil yang diinginkan tercapai
- Saat hasil telah sesuai dengan keinginan, berterima kasihlah ke Tuhan dan ke diri sendiri karena sekalipun kecil dan tidak bermakna, ada jerih payah kalian yang harus di hargai
- Ikhlaskan (atau mintalah bantuan Tuhan) atas hal hal yang berada di luar zona kendali seperti musibah, pikiran/penilaian orang lain (siapapun dia), omongan orang lain dsb. Berfokuslah hanya pada hal hal yang berada dalam zona kendali seperti bertanya, membuat pilihan positif, menambah teman, menambah keterampilan, menambah ilmu, menambah pengalaman dsb.
- Ber-terus teranglah ke orang tua, tanyakan kepada mereka atau orang dewasa yang berhasil (ingat : mereka dulu juga pernah remaja) tentang bagaimana mereka dapat melewati masa remaja secara menyenangkan
- Jika dirasa masih sulit, bisa jadi emosi adik adik telah terkunci (fiksasi) akibat pola asuh yang keliru, pengalaman buruk di masa lalu, konflik nilai, atau masalah yang tidak selesai. Untuk itu dengan persetujuan orang tua, fikirkan kemungkinan meminta bantuan profesional.
Ingin Cepat Berubah ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/






