kepribadian

Pernahkah kita bertanya-tanya bagaimana kepribadian manusia terbentuk? Apa yang menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu? Apakah ada energi lain yang menggerakkan manusia tanpa di sadari? Ternyata pertanyaan tersebut sudah pernah terlintas di pikiran seseorang ratusan tahun yang lalu. Sigmund Freud adalah salah satu orang yang berusaha meneliti lebih jauh tentang kepribadian manusia. Setelah ditelitinya, dia menyimpulkan bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk biologis sebelum munculnya hal-hal lain misalnya pergaulan sosial, akal sehat, tingkah laku, adat istiadat, moralitas dan lain-lain, yang ada pertama kali adalah tubuh. Awalnya manusia adalah darah dan daging. Sebagai makhluk biologis, maka manusia digerakkan oleh insting insting biologisnya dan hasrat hasrat kedagingannya yakni hasrat untuk memperoleh kenikmatan dan menghindari ketidaknikmatan (pleasure principle).

Baca entri selengkapnya »

Baik disini kita akan membahas sedikit tentang bagian dari diri kita sendiri, memang ini sedikit aneh dan sangat jarang di dengar oleh orang modern yang sudah mengikuti perkembangan jaman ini. Dimana saat mereka asyik dengan apa yang ada di luar sana sehingga sampai lupa kalo kita sebagai manusia modern juga memiliki bagian dalam diri yang sangat penting untuk diri kita sendiri nantinya di waktu yang akan datang.
Lebih tepatnya diwaktu kita sedang dilanda kejadian yang tidak itu2 saja  dari kebiasaan yang biasanya kita lakukan sehari-hari (monoton). Misalnya ketika kita sedang dilanda stress atau depresi berat akibat masalah yang gak biasa kita hadapi atau bahkan tekanan yang baru pertama kita jumpai dan terasa paling berat. Disitulah nantinya kita sangat membutuhkan jauh sesuatu yang ada di dalam diri kita, tidak tampak tapi sangat bisa untuk dirasakan. Banyak orang yang depresi ketika mengalami kondisi seperti yang saya sebutkan tadi, tapi gak sedikit juga yang berhasil melewatinya.

Mereka yang berhasil sudah pasti mengerti dan paham polanya. Mereka harus bagaimana, mereka harus ngapain aja dan harus melakukan apa. Sebenarnya setiap orang memiliki sesuatu yang ada di dalam diri kita, atau lebih mudahnya kita sebut dengan diri kita sendiri. Seseorang yang bisa mengenal dirinya sendiri pastinya dia akan mudah untuk menghadapi semua itu, karena pada dasarnya pasti kita dan diri kita itu selalu berbenturan ego atau pendapat. Kita menginginkan A tetapi diri kita maunya B (kata hati). Namun semua itu kemungkinan besar kita bisa lewati dengan diskusi dengan diri kita sendiri, cari jalan tengah di antara ego masing2. Sering2 lah berdiskusi dengan diri sendiri untuk menemukan solusi di antara masalah atau kendala yang di hadapi.

Lambat laun percayalah bahwa semua yang selalu gagal tidak akan selalu gagal jika kita bisa memenejemen diri kita sendiri, bisa bersahabat dengan diri kita sendiri. Misalnya menemukan gagasan antara masing2 diri kita untuk mencari jalan tengah atau solusi itu sendiri. Semua keberhasilan seseorang adalah berasal dari diri mereka sendiri, dari diri mereka yang dapat mereka kendalikan dan dapat mereka konsep mau gimana kita (aku dan diriku) nanti. Belajarlah menjadi tuan atas pikiran kita, agar kita bisa mengontrol diri kita.

Berlatihlah pelan2 untuk mengontrol ego, logika dan kata hati. Karena tiga itu adalah kunci kita dan diri kita untuk menghadapi sesuatu.

Jika kita bersahabat dengan diri sendiri kenapa kita musti menaklukannya ?

Sebelumnya saya mau mengucapkan terima kasih banyak ke pak Is atas waktu dan bantuannya.

Berkat terapi dengan beliau, rasa takut saya yang dulunya takut malam dan gampang panik, hilang setelah dua kali terapi tatap muka.

Terima kasih pak Isywara.

Om Telolet Om ?

28/12/2016

Jika kita mencari arti kata “telolet” di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ataupun di Google Translate, maka tidak akan ditemukan makna apapun.

Namun kata tanpa makna yang awal mulanya dimaksudkan sebagai seruan kepada supir bus agar membunyikan klakson busnya yang unik dan menghibur, malah semakin viral, bahkan menjadi trending topic dunia.

Dari sisi humanis, ada yang berpendapat bahwa tidak perlu biaya mahal untuk menjadi bahagia, sementara menurut pengamat sosial “om telotet om” menjadi katup pelepas dahaga dari kesumpekan hidup dan bagi politikus bisa dimanfaatkan sebagai  personal branding terhadap wong cilik.

Yang justru menjadi pertanyaan besarnya adalah bagaimana mungkin sebuah peristiwa sederhana (kalau tidak boleh disebut sebagai peristiwa tanpa makna) bisa menjadi viral bahkan trending topic dunia ?

Seolah ada “ruang kosong” yang minta diberi makna.

Apakah ini juga bermakna terjadinya disorientasi global ? Wallahu ‘alam bhisawab.

Ingin hidup lebih bermakna ? KLIK > https://servoclinic.com/kesaksian/

Perfeksionis

30/09/2016

Perbedaan antara seseorang yang ingin segalanya sempurna (perfectionist) dengan seseorang yang berguna (handy person) adalah pada kesempurnaan itu sendiri.

Seorang perfectionist menjadikan kesempurnaan sebagai zona nyamannya, sedang seorang handy person menjadikan kesempurnaan hanya sebagai sarana untuk memudahkan dirinya menolong orang lain.

Seorang perfectionist sering memiliki dorongan yang sangat kuat untuk terus menyempurnakan pekerjaannya, sebaliknya seorang handy person tidak terlalu peduli terhadap hasil yang telah dicapai, apakah sempurna atau tidak.

Seorang perfectionist sering merasa dirinya tidak mampu dan tidak memiliki kendali atas dirinya, meskipun memiliki titel pendidikan “berderet”, sebaliknya seorang handy person justru merasa sangat percaya diri.

Itu sebabnya kenapa seorang perfectionist sering mudah merasa cemas, tegang, waspada, panik, sakit kepala, bahkan tidak jarang disertai sakit maag dan susah tidur, sedang seorang handy person sering lebih mudah merasa bahagia.

Hal ini tentu saja dapat membuat seseorang perfectionist menjadi mudah lelah, tidak produktif bahkan frustrasi, karena semua pikiran, waktu dan tenaganya dihabiskan untuk menyempurnakan pekerjaannya.

Adapun pola perilaku pribadi yang perfectionist hampir mirip dengan pola perilaku Obsessive Compulsive Disorder (OCD) hanya saja pada kadar dan frekwensi yang lebih ringan.

Ingin menjadi handy person ? KLIK > https://servoclinic.com/kesaksian/

ALI, Karyawan Swasta

Terimakasih pak Isywara, terima kasih SERVO Clinic.

Saya saat ini sudah bersih dan bahagia dengan istri dan keluarga saya.

Saya dulu adalah seorang homoseksual yang tidak pernah terlintas sedikitpun dipikiran saya untuk mencintai wanita. Sejak remaja saya sudah menyukai laki-laki dan dalam pikiran saya selalu ingin di masa depan saya hidup berdua dengan laki laki, bahkan di umur 25 tahun saya sudah coming out kepada keluarga saya dan orang-orang terdekat saya, bahwa saya homoseksual dan diumur itu pula saya menemukan pasangan laki-laki saya dan hidup bersama satu rumah. Dia laki-laki impian saya dan kehidupan bersama laki-laki yang selalu saya inginkan sejak remaja. Bagaimana rasanya mendapatkan impian saya? Bahagia dan gemuruh sekaligus.

Setelah saya renungkan di setiap detik bersamanya, ternyata kebahagiaan saya itu hanyalah nafsu namun jiwa dan hati saya selalu gemuruh, selalu tidak tenang, selalu merasa tidak pas. Maka saya mencari apa yang sebenarnya pas, apa yang sebenarnya Tuhan mau kepada semua manusia, kepada saya. Apa sesungguhnya sistem hidup yang benar, sedangkan wanita jelas bukan untuk saya. Saya selalu berusaha mencari apa yang ada dan apa yang tidak ada dalam hubungan antara Laki-Laki dengan Laki-Laki dan Laki-laki dengan Wanita. Semua hal bisa disamakan dan bisa dilogikakan. Semua hal yang belum ada di hubungan laki-laki dan laki-laki, selalu saya usahakan untuk dapat dilengkapi, dapat diusahakan agar terpenuhi.

Namun satu hal yang tidak dapat dipenuhi dihubungan laki-laki dengan laki-laki adalah hukum Tuhan, sistem yang mengatur mengenai kewajiban pasangan dalam berumah-tangga dalam agama, tidak dapat dipaksakan dalam hubungan sejenis. Hubungan sejenis selamanya sangat berbeda dengan hubungan suami-istri yang diridhoi Tuhan.

Akhirnya iseng berandai-andai, membuka pikiran saya mengenai kemungkinan-kemungkinan. Saya membuka pikiran saya bahwa “apabila, apabila ya Allah, ada peluang di dunia ini agar saya bisa bahagia lahir batin dengan mencintai wanita dan rasanya sama dengan yang saya rasakan sekarang ini ketika saya mencintai pria, maka saya mau membuka pikiran tersebut. Bagi homoseksual seperti saya dulu, hal tersebut sekilas naif, tapi ternyata merupakan langkah penting dalam hidup saya.

Setelah itu setiap ada gemuruh dalam hati saya mengenai kehidupkan rumah tangga sejenis saya, saya selalu mencari artikel ilmiah terkait dengan homoseksualitas, mencari alternatif pemikiran dan mencari jalan alternatif. Saya menemukan bahwa seorang Kinsey yang menciptakan skala Homo-Bisex-Straight, baru menyadari bahwa dia bisa tertarik dengan laki laki, setelah dia mencium muridnya. Dan ternyata banyak orang yang tadinya straight, lalu bisa dengan laki-laki bahkan selanjutnya sepenuhnya dengan laki-laki.

Saya mengambil kesimpulan bahwa SETIAP ORANG BISA MENJADI APAPUN YANG DIA MAU. Homoseksual, Biseksual, dan Heteroseksual, hanyalah label untuk menjelaskan perilaku, dan kita tidak perlu masuk dalam kotak identitas manapun, tidak perlu melabeli dengan label apapun.

Mengapa orang yang dulunya menyukai wanita, lalu beralih ke laki-laki tidak bisa kembali menyukai wanita ? Karena dunia homosexual merupakan dunia gemerlap, sex instant, tanpa biaya, tanpa takut hamil, dan bisa ngeseks bahkan tanpa kenal nama. Mengapa orang yang memiliki kelainan seksual suka dengan anak kecil atau sex dengan binatang sulit sekali disembuhkan ? Karena kekuatan sex itu luar biasa, sex is peace of heaven. It is very strong, selalu menjadi rujukan kita mencari kenikmatan yang sama selanjutnya. It cannot be erased, tapi bisa ditambah, ditimpa dengan pengalaman baru, sex control your mind, control everything.

Saya tiba pada kesimpulan: Saya bukan homoseks, bukan bisex, bukan hetero, saya manusia. Saya bisa menjadi apapun yang saya mau.

DISCLAIMER : Kesaksian di atas tidak dimaksudkan sebagai jaminan bahwa hasil terapi akan sama pada setiap orang, karena setiap kasus bersifat spesifik, tergantung dari seberapa cepat akar masalah ditemukan dan dari kesediaan klien untuk berubah !

Ingin mengubah orientasi sejenis ? KLIK > https://servoclinic.com/kesaksian/

Predator Seks ?

02/09/2016

Predator seks merupakan istilah yang sangat tepat dalam menggambarkan fenomena sosial khususnya perilaku seks tidak lazim di masyarakat.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan kata predator/pre·da·tor/ /prédator/ n sebagai binatang yang hidupnya dari memangsa binatang lain; hewan pemangsa hewan lain sedang kata seks /séks/ n 1 jenis kelamin; 2 hal yang berhubungan dengan alat kelamin, seperti sanggama: — merupakan bagian hidup manusia; 3 berahi: -nya timbul ketika menonton film percintaan.

Secara akal sehat, istilah pemangsa hanya cocok disematkan pada hewan, karena sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang hanya dibekali perangkat insting, hewan harus memangsa makhluk lain guna mempertahankan kelangsungan hidupnya. Namun pada kenyataannya, sifat pemangsa juga terjadi dalam kehidupan sosial di masyarakat seperti adanya pelaku bully, pemalak, pemeras, pelaku pelecehan seks dsb.

Sayangnya, tidak semua perilaku pemangsa mudah dideteksi secara dini, karena perilaku pemangsa dapat berlangsung dalam spektrum yang luas mulai dari cara yang paling kasar dan brutal hingga cara yang halus, bahkan korban sendiri tidak menyadarinya.

Khusus pada pemangsa seks anak anak (pedofilia) biasanya dilakukan dalam bentuk tersembunyi mulai dari pujian, iming iming persahabatan, nilai pelajaran, hadiah hingga uang. Itu sebabnya kenapa anak anak sangat rentan menjadi korban predator seks.

Untuk itu perlu kiranya anak anak dibekali dengan kemampuan “membaca” maksud tersembunyi dari lawan bicara sehingga tidak mudah dimanipulasi. Contoh : Bagaimana cara mensikapi pujian dari teman baru Facebooknya? Bagaimana merespon rayuan (flirting) ataupun iming iming hadiah.

Adapun posisi-posisi yang rentan menjadi korban predator seks antara lain : posisi adik kelas (yunior), posisi murid, posisi pasien, posisi bawahan, posisi asisten dsb.

Ingin bebas dari predator seks ? KLIK > https://servoclinic.com/kesaksian/