Mengapa Zidane Menanduk ?

15/08/2006

  

…….”Saya ini laki laki dan bagi saya, kata-kata terkadang saya rasakan lebih keras daripada tindakan. Lebih baik dipukul mukaku daripada mendengarkan kata-kata (Materazzi) itu.” Demikian jawaban Zidane pada petikan wawancara dengan televisi Prancis, Canal+.

Cara seseorang menanggapi suatu ejekan berbeda beda, tergantung realitas subyektif individu tersebut. Hal itu disebabkan oleh medan persepsi setiap orang berbeda beda dan sifatnya sangat subjektif. Untuk dapat memahami respon spontan yang dilakukan seorang Zidane, hanya dapat difahami dari bagaimana dia memandang realita secara subyektif (subjective experience of reality).

Seseorang akan menanggapi stimulus sesuai dengan medan persepsinya dan sesuai dengan referensi memori paling akhir yang dikenal. Sebuah stimulus yang tidak sesuai dengan struktur dirinya seperti ejekan yang sangat menyakitkan ditambah situasi final piala dunia yang sangat ekstrim akan dirasakan sebagai ancaman (threat). Hal tersebut secara otomatis menimbulkan suatu keadaan tegang dan gelisah. Jika level ancaman melewati ambang kesabarannya maka keluarlah naluri respon yang dikenalnya yaitu  “menanduk” dan biasanya bersifat spontan. Dengan demikian persepsi tidak berhubungan dengan nilai benar-salah tetapi berhubungan dengan perasaan nyaman dan tidak nyaman ybs. 

…….”Dia mengulang ulangnya beberapa kali. Dan semuanya berlangsung begitu cepat, sampai saat dia mengatakan hal yang sangat melukai hati saya.” demikian ungkapan isi hati seorang Zidane.

Perhatikan situasi ekstrim yang terbentuk saat itu. 1. Tuntutan sebagai model pemain terbaik dan termahal; 2. Tuntutan memenangkan final Piala Dunia 2006; 3. Efek pengulangan dari ejekan; 4. Pilihan kata Materazzi yang sangat menyakitkan.

Dalam keadaan ekstrim seperti itulah ambang kesabaran seorang Zidane terlampaui dan akhirnya “menanduk”.

Sangat disayangkan mengapa hal tersebut terjadi dan harga yang harus dibayar sungguh terlalu mahal. Selain diganjar kartu merah, hal tersebut beresiko menghancurkan reputasi yang telah dibangunnya selama ini seperti : 1. Terpilih tiga kali sebagai pemain terbaik FIFA, sebuah rekor yang hanya tertandingi oleh pemain Brasil, Ronaldo; 2. Ditahun 2004, termasuk diantara 125 pemain legendaris yang masih hidup seperti Pele; 3. Pernah memperkuat di AS Cannes, Girondins Bordeaux, Juventus Italia dan Real Madrid Spanyol; 4. Bermain 108 kali untuk tim nasionalnya; 5. Nilai transfernya sebesar 3 juta poundsterling sewaktu pindah dari Bordeaux ke Juventus Italia; 6. Klub kaya Real Madrid Spanyol mentransfer dari Juventus sebesar 66 juta Euro; 7. Tercatat sebagai pemain termahal sepanjang sejarah sepak bola. (data diambil dari Kompas Minggu 16 Juli 2006)

Intermezzo : Bayangkan jika pimpinan negara, pimpinan legislatif, pimpinan yudikatif, pimpinan perusahaan kita dalam membuat sebuah keputusan besar juga menggunakan respon spontan, hanya karena kupingnya memerah karena dikritik ???   

Bagaimana mencegahnya ?

Persiapan mental saat menjelang pertandingan :

1. Melakukan relaksasi sebelum bertanding

2. Membuat “pagar mental” sebelum bertanding

3. Mengabaikan “pancingan emosi” lawan

4 Mengubah “makian” menjadi cantolan mental untuk menambah gol. 

Tindakan Pencegahan : 

1. Untuk seorang bintang sekelas Zidane, seharusnya hal tersebut sudah harus diantisipasi dengan baik. Sebagaimana pepatah bijak mengatakan “Semakin tinggi sang pohon akan semakin kencang pula angin yang menerpanya”. Semakin tinggi reputasi seseorang maka semakin tinggi level mental yang harus dibangunnya. Hal tersebut disebabkan akan semakin tinggi pula level tantangan ataupun ancaman yang akan dihadapinya.

2. Menyadari bahwa kebutuhan membangun level mental, bersamaan dengan kebutuhan membangun reputasi.

3. Membuang hambatan psikologis / hambatan sukses serta jika ada, trauma trauma masa kecilnya.

4. Melakukan pemrograman mental diri dan prestasi secara terus menerus. 

5. Hal lain yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan bantuan seorang “personal coach atau pelatih pribadi”. Seorang “personal coach” profesional biasanya sangat memahami “psikologi teror” yang akan dihadapi seorang dengan reputasi tinggi serta cara cara mengantisipasinya. Selain itu seorang personal coach profesional sangat memahami blue print mental yang harus dibangun kedepan seiring meningkatnya reputasi ybs.

Ingin Cepat Berubah ? KLIK > https://servoclinic.com/kesaksian/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s