Tujuan yang Gagal ?

16/08/2006

  

Pernah jalan jalan ke Bandara Negara tetangga waktu jadul (jaman dulu) ? dan menemukan banyak mobil mobil parkir di bahu jalan ? Sekarang tidak ada lagi mobil yang parkir dibahu jalan, tetapi telah digantikan dengan beton beton yang mengambil hampir seperempat jalan. Yang jelas bagi pengendara mobil menjadi agak kikuk, karena jika lengah beresiko sang mobil mencium beton tersebut.

Dimana letak salah kaprahnya ?

Yang jelas biaya buat betonnya pasti mahal. Selain itu fungsi jalan yang semula lapang jadi sia sia. Kalau mau ditelusuri, bukankah hal tersebut dimaksudkan agar tidak ada lagi taksi taksi yang ngetem di bahu jalan. Mengapa demikian… karena manajemen bandara tidak mampu mengatur pertaksian bandara. Mengapa muncul kebutuhan penumpang mencari taksi agak jauh dari bandara ? bahkan dibela belain naik ojek dulu ataupun angkutan koperasi bandara ? Karena penumpang kalo naik taksi di bandara merasa di “palakin”. Akhirnya walaupun berada di bandara internasional, alhasil tetap merasa naik taksi di stasiun Gambir (jangan jangan di Gambir pun sekarang udah tertib, maklum udah lama tidak menggunakan kereta).

Salah kaprah lainnya ….

Coba pula mundur ke ingatan masa lalu …… begitu mendekati lobby bandara kedatangan… banyak mobil yang berjalan pelan …. karena berharap harap orang yang dijemput telah siap ditepi jalan. Jika perlu sang pengendara belagak bodoh menunggu diingatkan petugas bandara…baru maju sedikit, begitu tidak ada petugas begitu lagi…. demikian seterusnya dan itu dilakukan oleh banyak pengendara. Bisa dipastikan bandara tersebut seolah olah menjadi bandara yang super padat alias macet. Tapi jika difahami jalan berfikir pengendaranya…. karena untuk alasan penjemputan yang relatif itungannya menit, terpaksa harus masuk ke parkiran yang perjam-nya bisa membuat bandara untung besar.

Dimana letak salah kaprahnya ? Bukankah bandara mecari keuntungan dari jasa penggunaan bandaranya….. bukan dari jasa perparkirannya. Atau dengan kata lain, perparkiran adalah dukungan sistem bukan sistem utamanya itu sendiri. Jadi perparkiran adalah bagian dari “pelayanan” bukan sumber “mata pencaharian”. Jika perlu biaya sewa bandara yang dinaikkan dan sebaliknya parkir digratiskan, dengan demikian penjemput akan dengan sukacita memarkir mobilnya di parkiran dan lalu lintas bandara menjadi tertib.

Sekarang sih sudah berubah, penjemput langsung digiring untuk masuk keparkiran….. tetapi menjadi muncul masalah baru…… pertama…. jalan utama yang relatif lebar menjadi tidak berfungsi digantikan oleh area penjemputan yang sempit. Biaya membangun koridor penjemputan yang sudah pasti cukup besar tetapi untuk manfaat / fungsi yang semakin kecil.

Dan yang lebih parah lagi……karena tujuan utamanya menghindar “dipalakin”, penjemput juga makin lihai……. Jemput saja kebagian keberangkatan…… ha ha ha ha ha …….

Pasti ada yang mau kasi komen….. pengalaman pribadi nih ye……

Ingin Cepat Berubah ? KLIK > https://servoclinic.com/kesaksian/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s