Target, Hanyalah Sebuah Alat ?

23/08/2006

 

  

Sebahagian dari kita, sering menjadikan target sebagai sebuah tujuan. Contoh : Jika sekolah, maka nilai tertinggi atau nilai 10 adalah tujuan, nilai 7 adalah pas pasan dan nilai 5 adalah payah. Sehingga secara tidak disadari kita beranggapan nilai tertinggi adalah sebuah kesuksesan dan nilai 5 adalah sebuah kegagalan.

Bagaimana jika kita mulai dari angka atau target yang kita inginkan ? misal saya ingin ujian matematika saya dapat 8.

  • Jika saya mendapatkan nilai 10, berarti saya termasuk pribadi yang belum berhasil, karena belum mengenal kapasitas diri saya. Artinya, saya punya kemampuan dapat 10, mengapa pasang target cuma 8 ? Atau bisa juga disebut saya tidak memiliki rasa “percaya diri” yang cukup.
  • Jika saya mendapat nilai 6, berarti saya juga termasuk pribadi yang belum berhasil, karena belum mengenal kapasitas diri saya. Artinya, saya belum memiliki kemampuan dapat nilai 8 tetapi mengapa pasang target terlalu tinggi ? Atau dengan kata lain saya perlu “belajar” lebih banyak dan usaha yang lebih keras. Atau jika saya tidak mau, turunkan saja targetnya.

Dengan demikian kita tidak perlu terlalu perduli dengan teman teman lainnya yang memiliki rumah 3 buah dan mobil 6 buah , karena barangkali ybs. memang hanya memiliki dua rencana yaitu menggunakan semua waktu dan usahanya agar memiliki rumah 3 buah dan mobil 6 buah. 

Bagaimana jika saya menggunakan semua waktu dan usaha saya untuk mencapai 5 buah rencana yaitu memiliki 1 rumah, 2 mobil, membiayai semua anak sampai lulus kuliah, membangun 1 tempat ibadah dan menolong 1 rumah yatim piatu dan saya dapat mencapainya ?

Manakah yang lebih berhasil ? Yang satu hanya berhasil menjalankan 2 rencananya dan yang lain berhasil menjalankan 5 rencananya. Walau secara fisik yang satu terlihat lebih kaya ?

Lalu, apa dong tujuannya belajar atau bekerja ?

Bagaimana jika :

  • Tujuan belajar adalah meningkatkan kemampuan berpikir, jadi jika nilai ujiannya baik tetapi kemampuan berfikir belum meningkat = gagal
  • Tujuan kaya agar bisa menolong orang lain, jadi kalau belum bisa menolong orang lain berarti = miskin. Apalagi jika kayanya karena menyusahkan orang lain seperti korupsi, memeras dsb. 

Itulah sebabnya, mengapa target hanyalah sebuah alat tentang seberapa jauh kita mengenal kemampuan diri kita.

Ingin Cepat Berubah ? KLIK > https://servoclinic.com/kesaksian/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s