Manajemen Diri dan Kualitas Pekerjaan ?

17/10/2006

  

Sikap adalah cara seseorang menanggapi suatu objek, situasi ataupun kondisi tertentu. Komponennya terdiri atas komponen kognitif (nalar), komponen afektif (emosional) dan komponen behavioral (kebiasaan).

Proses terbentuknya sikap mengikuti “siklus” tertentu yaitu pengalaman-kesimpulan-sikap-tindakan-pengalaman baru berikutnya-kesimpulan baru-sikap baru dst. Setiap pengalaman positif ataupun negatif yang baru akan disimpan sebagai kesimpulan dalam bank memory (otak) dan kesimpulan tsb. akan digunakan sebagai rujukan “sikap” dalam merespon peristiwa berikutnya.

Seiring dengan proses peneguhan (fiksasi) atau pengulangan atas peristiwa tersebut, terbentuklah struktur sikap dengan konfigurasi mental tertentu. Itu sebabnya sikap memiliki pola tertentu yang relatif tetap, bertahan dan unik untuk setiap individu.

Mengapa “kualitas sikap” berpengaruh terhadap “kualitas pekerjaan” ?

Contoh sederhana : Sikap karyawan terhadap penerapan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 !

Sesuai ketentuan prosedur, keharusan mengisi form Corrective Action Request (CAR) atas setiap “masalah” yang terjadi, dapat di “sikapi” oleh karyawan sebagai beban tambahan. Apalagi jika kebiasaan sebelumnya, atas setiap “permasalahan” yang timbul, cukup disampaikan melalui telpon.

Pemahaman akan pentingnya “record” sebagai bukti “kinerja”, harus dapat diterima oleh nalar (kognitif) terlebih dahulu, dapat dirasakan nyaman oleh emosi (afektif) terlebih dahulu, sebelum terjadi perubahan sikap dan perilaku pada diri karyawan. Baru setelah itu mengalami proses peneguhan menjadi sebuah kebiasaan ataupun budaya.

Itu sebabnya ketrampilan karyawan dalam “mengelola sikap” ataupun “manajemen diri” seperti kemampuan mengenali pikiran dan perasaannya (baca: kesadaran), bersikap terbuka terhadap hal yang baru dan baik, serta bersedia membuang kebiasaan lama yang buruk, menjadi “dasar” yang sangat penting bagi peningkatan kualitas pekerjaan.

“Karyawan Terbaik” akan menjadi tidak berguna jika bekerja dengan “Sistem yang Buruk” dan “Sistem yang Baik” akan menjadi tidak berguna jika dikerjakan oleh “Karyawan dengan Mental yang Buruk” !.

Ingin Cepat Berubah ? KLIK > https://servoclinic.com/kesaksian/

Iklan

8 Responses to “Manajemen Diri dan Kualitas Pekerjaan ?”

  1. Budi Says:

    Bagus tulisannya singkat tapi implementatif, tinggal diterjemahkan dalam proses pelatihan dan ketauladanan oleh para pimpinan perusahaan

  2. Febra Says:

    nice artikel…

  3. suwarno Says:

    makasih ya aku karyawan jadi harus banyak belajar

  4. anita Says:

    Asslm.

    Betul sekali apa yang disampaikan, kebetulan saya mengambil konsentrasi manajemen sumber daya manusia. Manajemen diri sangat penting terhadap peningkatan kualitas pekerjaan.

  5. pan jleggggg Says:

    ga tau………….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s