Kampanye Prestasi ?

24/11/2006

  

Dalam jumpa pers Rabu 22 November 2006, Rudy Gobel dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional menyatakan bahwa kampanye penanggulangan masalah epidemi HIV / AIDS di Tanah Air masih belum efektif. Kampanye baru sebatas penyampaian informasi dan belum menjangkau kelompok masyarakat beresiko tinggi terhadap HIV / AIDS untuk mengubah “perilaku” mereka.

Sama halnya dengan kampanye kampanye lainnya, apakah kampanye bahaya merokok, kampanye kebersihan, kampanye anti korupsi, kampanye pemberantasan demam berdarah, kampanye flu burung, kampanye gerakan berfikir positif dsb., yang hanya sebatas bagi brosur, bagi buku, tempel stiker, spanduk, baleho akan dapat mengubah “perilaku” objek ? Jawabannya : tidak !

Mengapa demikian ?

Karena “bahasa” perubahan perilaku adanya di tataran “bahasa rasa”, bukan “bahasa nalar”.

Jika diteropong secara lebih cermat, peristiwa merokok, narkoba, HIV/AIDS dsb. hanyalah “akibat” dari ketidak mampuan seseorang “mengelola” dirinya (kecuali kasus kasus kecerobohan pihak lain). Sehingga perubahan “perilaku” pada seseorang baru akan terjadi, jika terjadi perubahan pada Kecerdasan Emosi-nya (EQ).

Seseorang yang memiliki kecerdasan emosi yang tinggi, mampu mengenali perasaannya sendiri, perasaan orang lain, mampu memotivasi dirinya sendiri serta mampu mengelola emosinya secara baik dalam hubungannya dengan pihak lain.

Semakin tinggi Kecerdasan Emosi (EQ) seseorang maka semakin tinggi kompetensi pribadinya, semakin besar kesadaran dirinya (self awareness), semakin baik kemampuan mengendalikan dirinya (self management/regulation) serta semakin mampu memotivasi (motivating) dirinya.

Sementara di Indonesia masih sangat sedikit (hampir tidak ada), lembaga resmi yang mengajarkan tentang “manajemen diri”, “keterampilan hidup” ataupun “manajemen prestasi”,

Maka alangkah mubazirnya dana milyaran, habis tanpa mengenai sasaran yang tepat, bahkan sering disalah gunakan untuk keperluan politik. Apa hubungannya antara foto seorang “calon gubernur”, “calon bupati / walikota” dengan kampanye anti narkoba ? Bahkan ada website resmi untuk kampanye penanggulangan “epidemi” tidak dikelola dengan baik, sehingga foldernya penuh dengan link-link porno dan judi.

Mengapa pendistribusian anggaran tidak dititik beratkan pada hulu, bukan hilir ? Dan kenapa kampanye tidak kearah preventif daripada kuratif, lebih kearah “kampanye prestasi” ketimbang pemulihan ? Tanya kenapa ?

Ingin Cepat Berubah ? KLIK > https://servoclinic.com/kesaksian/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s