SDM Payah ?

29/11/2006

  

Penulis tidak heran jika Michael Porter, profesor dari Universitas Harvard menilai Indonesia sangat tidak produktif.

Alasannya antara lain ketidak efisienan sistem ketenaga kerjaan, ketidak cukupan infrastruktur, regulasi yang terlalu panjang dan banyak, kurangnya tenaga Ahli dsb.

Akan tetapi jika mau ditilik lebih jauh akar permasalahannya, jawabannya tidak lain adalah Kualitas SDM Indonesia yang harus di tingkatkan. Karena sebaik apapun sistem ataupun tehnologi yang dimiliki (itupun beli ?) semuanya tergantung dari “siapa” yang menjalankannya.

Penulis jadi ingat sewaktu menjadi Auditor di sebuah perusahaan Surveyor dan melakukan audit di beberapa perusahaan / industri se Jabodetabek.

Saat minta pendapat ke pimpinan perusahaan K…. tentang produktifitas karyawan di Indonesia, penulis sempat kaget dan tersinggung waktu dikatakan “SDM Indonesia payah payah, 1 orang K…. berbanding dengan 4 orang Indonesia”.

Kemudian penulis coba mengejar :”Atas dasar apa Anda menyimpulkan demikian ?

Sewaktu dikeluarkan data perbandingan (apple to apple) dari beberapa perusahaan sister company sejenis, ternyata menunjukkan output per individu mereka memang 4 kali lebih besar !

Jadi apakah masih perlu wacana tentang “Bagaimana meningkatkan produktifitas Indonesia” ?

Realisasikan saja dulu anggaran pendidikan 20% APBN, sebagaimana yang telah diamanatkan Pasal 49 UU No. 20 tahun 2003.

Penggunaan anggaran harus difokuskan pada “Pemberdayaan SDM”, “Kewirausahaan”, “Profesionalisme”. Selain kemampuan IQ SDM di tingkatkan, bekali juga dengan “Life skill education / Manajemen Diri”, “Kecerdasan Emosi” (EQ), “Manajemen Resiko” dsb.

Persoalannya adalah “mau” atau “tidak” jika gaji Pejabat Pemerintah, DPR dan lembaga tinggi negara lainnya “dikorbankan” agar anggaran pendidikan 20% APBN dapat terealisir ? Siapa peduli ?

Ingin Cepat Berubah ? KLIK > https://servoclinic.com/kesaksian/

Iklan

5 Responses to “SDM Payah ?”

  1. gondy Says:

    jadi bagaimana solusi dari rendahnya SDM di Indonesia ini?

    • Servo Clinic Says:

      Realisasikan segera anggaran pendidikan 20% APBN sebagaimana yang telah diamanatkan Pasal 49 UU No. 20 tahun 2003.

      Penggunaan anggaran harus difokuskan pada “Pemberdayaan SDM”, “Kewirausahaan”, “Profesionalisme”. Selain kemampuan IQ SDM di tingkatkan, bekali juga dengan “Life skill education / Manajemen Diri”, “Kecerdasan Emosi” (EQ), “Manajemen Resiko” dsb.

  2. gondy Says:

    ya, saya juga sependapat dengan pendapat bapak. Terima kasih atas tanggapan bapak. Semoga hal ini dapat segera direalisasikan.

  3. Tisna Says:

    Boljug..nee, tapi apakah itu cukup efisien dan efektif….masalahnya kultur budaya indonesia yang masih berporos pada level tengah….(sudah bisa makan sudah untung…) 🙂

    kira-kira bagaimana yaach..

    • Servo Clinic Says:

      Lha… kalau yang diberi wewenang (yang seharusnya bertanggung jawab) saja masih ada yang “hang”, apalagi kita kita ini !

      Dulu pernah seorang Kepala Negara terheran heran dengan tingginya angka demam berdarah. Padahal itukan tanggung jawabnya ?

      Dulu juga pernah seorang Kapolda terheran heran dengan tingginya kualitas dan kuantitas kejahatan di salah satu propinsi. Padahal itukan tanggung jawabnya ?

      Dan masih banyak lagi pemimpin kita yang terheran heran dengan hal hal yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya.

      So, mulailah dari diri sendiri dan jangan beri mandat ke alamat yang salah !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s