Trauma, Fobia, Mania vs. Prestasi ?

08/03/2007

  

Terdapat hubungan yang sangat erat, penting dan terkait satu sama lainnya antara pemulihan Trauma, Fobia, Mania, Kebiasaan Buruk terhadap “Prestasi” seseorang.

Mengapa demikian ?

Kejadian ekstrim ataupun yang dapat menimbulkan “trauma fisik atau psikis” yang dialami saat kecil, berpotensi menimbulkan “kecemasan” kronis pada kehidupan sesudahnya. Demikian pula dengan “sugesti ataupun mitos” yang salah yang ditanamkan dimasa lalu, walaupun intensitasnya rendah, namun jika dilakukan secara terus menerus dapat menimbulkan kecemasan serupa.

Selama tidak dilakukan katarsis (pelepasan ketegangan), emosi negatif yang “terkunci” pada peristiwa pahit semakin lama akan semakin terakumulasi mengikuti siklus peneguhan (mengalami fiksasi).

Seseorang dapat saja memaksakan diri (terpaksa) untuk menghadapi sumber kecemasan, misal karena tuntutan pekerjaan, akan tetapi biasanya menimbulkan kecemasan yang luar biasa ataupun ketakutan, biasanya disebut dengan Fobia. Hal ini, jika terjadi dalam jangka panjang akan sangat menguras energi dan berpotensi menimbulkan kelelahan kronis atau depresi.

Karena tubuh tidak dapat terus menerus tegang, biasanya “diri” akan melakukan kompensasi (lari dari masalah) dalam bentuk Mania, Kecanduan/Adiksi ataupun Kebiasaan Buruk lainnya. Kebiasaan ini memang dapat meredakan ketegangan sesaat, akan tetapi sangat merugikan karena menghilangkan kesempatan untuk “belajar” mengatasi persoalan.

Kehilangan kesempatan untuk “belajar” mengatasi persoalan berarti menghilangkan kesempatan seseorang untuk tumbuh dan berprestasi. Dan hilangnya kesempatan untuk tumbuh dan berprestasi, berarti memperkecil peluang seseorang untuk “naik derajat”.

Sulitnya seseorang untuk “naik derajat” berpotensi menimbulkan kecemasan baru dan kesedihan baru. Dan semakin cemas ataupun semakin depresinya seseorang berpotensi menimbulkan pikiran “BUNTU” dan perasaan “GAGAL”. Pikiran buntu dan perasaan gagal berpotensi menimbulkan “PUTUS ASA”

Untuk itu fokus terapi harus kepada pemecahan akar permasalahannya. Menghilangkan Fobia, Mania ataupun Kebiasaan Buruk tanpa menghilangkan akar permasalahannya cuma mengalihkan ke “bentuk” fobia, mania ataupun kebiasaan buruk lainnya.

Itu sebabnya, pemrograman Prestasi pada diri seseorang atau karyawan, baru dapat dilakukan setelah hambatan Psikis (mental blocks) dihilangkan terlebih dahulu.

Ingin Cepat Berubah ? KLIK > https://servoclinic.com/kesaksian/

Iklan

4 Responses to “Trauma, Fobia, Mania vs. Prestasi ?”

  1. ayid Says:

    saya ada masalah yang macam pak nyatakan dan saya lari dari masalah menggunakan onani. bagaimana tuk mengendalikan stress dan ngak lari dari perkara tersebut??
    tolong… saya udah ngak tahan lagi dengan masalah ini

  2. joko Says:

    Jd kta harus bisa berhenti dr onani tuw gmn ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s