Budaya Membolos ?

06/10/2008

Lebaran baru saja usai.

Kompas Senin, 6 Oktober 2008 di halaman 2 mengangkat tulisan berjudul “Atasi Budaya Membolos”. Di duga sama seperti tahun tahun sebelumnya, pada hari pertama kerja kemungkinan diwarnai banyaknya meja kerja PNS yang kosong karena banyak pegawai tak masuk kerja tanpa izin.

Guru besar ilmu administrasi UI Eko Prasodjo menyatakan, budaya membolos terjadi tiap tahun karena hingga kini tidak ada sistem penilaian kinerja yang baik dalam birokrasi pemerintahan.

Demikian pula pendapat Koordinator Politik dan Hukum Anggaran Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Arif Nur Alam berpendapat, sanksi tegas harus diberikan kepada PNS yang mangkir, khususnya kepada elite birokrasi. Teguran tidak cukup, sanksi tegas penting untuk menimbulkan efek jera.

Namun sanksi tegas yang lazim dilakukan pada inspeksi mendadak yang selalu digelar pada hari pertama kerja pada tahun tahun sebelumnya menunjukkan tidak memberikan perubahan yang berarti pada sikap disiplin berikutnya.

Hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa kemungkinan :

1. Sanksi yang diberikan belum cukup “menakutkan”, tebang pilih dan tidak dilakukan secara konsisten.

2. Sikap disiplin sehari hari atasan yang buruk. Apalagi jika kebiasaan melanggar disiplin justru di”contoh” dari kebiasaan korupsi waktu atasan seperti bekerja “santai”, main game, datang siang, pulang awal dsb. serta sikap “ewuh pekewuh” yang tidak tepat.

3. Penyalah gunaan momen perayaan agama. Kebiasaan saling “maaf memaafkan” dimanfaatkan untuk membenarkan perilaku tidak disiplin karyawan, padahal agama tidak mengajarkan demikian.

Meminjam model sistem pada ISO 9000, perbaikan sistem terus menerus merupakan minimum persyaratan, kalau perlu naikkan bobot sanksi atas pelanggaran disiplin. Namun jika menilik pada 3 poin di atas maka budaya membolos adalah peristiwa “mental”. Jadi perbaikan sistem tanpa diikuti “tune up” mental hanyalah mengulang “cara salah” yang sama pada upaya perbaikan sebelumnya.

Jangan jangan peraturan perusahaan justru semakin dilecehkan dengan joke “Potong gaji ? Siapa takut !”

Siapa yang mengalami juga ? KLIK > https://servoclinic.com/kesaksian/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s