Ujian Nasional (UN) ?

22/03/2010

  

Apakah seseorang pemain gitar klasik baru disebut jago jika bersertifikat ?

Apakah seorang pemain tenis berbakat baru disebut jago jika lulus pelatnas ?

Apakah seorang Billgate baru disebut cerdas jika menyelesaikan kuliah di Harvard ?

“Tapi kalau saya tahu drop out dari Harvard bisa menghasilkan uang milyaran dolar, saya juga akan melakukan itu,” kata Surin, seorang pria kelahiran Nakorn Sri Thammarat, Thailand Selatan yang meraih gelar Magister dan Doktor dari Harvard pada tahun 1974 dan 1982 dan pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Thailand pada 1997-2001.

Jika demikian, apa yang ingin dicapai oleh penyelenggara Ujian Nasional (UN) yang ingin menjadikan UN sebagai tolok ukur kemampuan seorang siswa ? 

Dari sudut pandang saya, terlihat jelas adanya pemahaman yang keliru dari penyelenggara pendidikan mengenai perbedaan antara pembelajaran sebagai alat untuk memperluas zona kendali setiap siswa (baca : kompetensi), dengan tujuan pendidikan itu sendiri. 

Alih alih untuk mempersiapkan cetak biru (blue print) kesuksesan setiap insan siswa Indonesia, hal tersebut justru berpotensi membentuk pribadi pribadi yang tidak bahagia, penuh trauma, pengidap gangguan kecemasan, tidak jujur, dan fobia di kemudian hari dsb.

Kiranya sangat tepat petikan serat Wedhatama karya K.G.A.A. Mangku Negara IV yang mengatakan :”
Ngelmu iku kalakone kanthi laku” (Pupuh Pucung, bait I) yang artinya ngelmu (belajar) itu hanya dapat dicapai dengan mempraktekkannya. (baca : bukan melalui lulus UN !)

Ingin Cepat Berubah ? KLIK > https://servoclinic.com/kesaksian/

Iklan

One Response to “Ujian Nasional (UN) ?”


  1. Sungguh menarik, artikel kami di atas langsung memperoleh tanggapan dari seorang rekan di Facebook sebagai berikut :

    UN tuh utk apa? ia adalah stahap perjalanan k masa depan yg lbh baik buat para siswa-siswi.(umunnya)
    Terlalu byk debat2 & komen2 menjadikan UN suatu isu d kalangan masyarakat.

    Lho napa qt harus ambil nama2 yg d atas sbagai refresi?nggak relevan ya.soalny,UN bkan utk mencari SUPER ARCHIEVERS tp EDUCATED PERSONS.(titik)

    Coba nanya dgn hati yg jujur.mau anak2 qt jd lbh baik dr qt atw biarin aj mereka mau apa kek?
    ‘To be a learned person is better from being not to learn at all.’

    dan berikut tanggapan balik dari kami :

    Saya setuju dengan pendapat bung H……. bahwa belajar adalah tahap perjalanan ke masa depan yang lebih baik buat siswa, jika belajar tersebut memang DIINGINKAN sendiri oleh ybs.

    Namun jika persepsi siswa terhadap belajar justru terbalik, dimana belajar justru jadi momok, ancaman, sumber stres/trauma, apakah itu yang menjadi tujuan pendidikan ?

    Itu sebabnya di banyak negara maju mereka membedakan antara sertifikat kepesertaan dengan sertifikat kelulusan. Artinya jika seseorang menginginkan menjadi ahli di bidang tertentu, ybs. secara sadar memilih bidang yang disukai dan mengikuti ujian kompetensi tertentu atas kesadaran / keinginan sendiri bukan karena keterpaksaan ….

    Meminjam model pertanyaan Anda dan bertanya dengan hati yang jujur, mana yang lebih Anda sukai, menjadi diri sendiri ataukah menjadi orang lain ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s