Kerja-sama Terapis dan Klien ?

26/03/2010

Dari pengalaman kami, terapi pada fobia yang sumber fobianya diketahui atau “nyata” seperti fobia cecak, ulat atau kecoa, biasanya sangat mudah dan cepat.

Namun pada fobia yang sumber fobianya tidak jelas seperti fobia sosial, insomnia, tiba tiba pusing atau gangguan cemas tanpa sebab, biasanya memerlukan penanganan yang lebih spesifik dan waktu yang lebih lama karena hal tersebut sangat ditentukan oleh kerjasama (baca: keterbukaan) klien serta jam terbang terapis.

Ada banyak faktor yang dapat menghambat proses terapi antara lain :

  1. khawatir mengalami “kesakitan emosional” yang tidak terkendali
  2. trauma atas kegagalan terapi sebelumnya
  3. enggan peristiwa memalukan diketahui orang lain
  4. merasa lebih tau tentang akar masalahnya
  5. percaya pada mitos / kutukan
  6. rasa bersalah pada diri sendiri
  7. khawatir kepercayaannya disalahgunakan
  8. takut kehilangan jati diri, dsb.

Untuk itu pastikan semua hal yang dapat membuat Anda ragu, seperti masalah metode terapi, biaya terapi, kerahasiaan, jaminan terapi, aspek legal, terapis yang akan menangani, resiko terhadap jatidiri/keyakinan dsb. telah Anda tanyakan sebelum memutuskan mengikuti sesi terapi atau pada tahap awal kunjungan (tahap konsultasi atau edukasi).

Mengapa demikian ?  Karena jika telah masuk pada tahap terapi, diperlukan sikap ikhlas, pasrah ataupun pasif agar memudahkan Anda mencapai “tabula rasa” dimana sumber gangguan terjadi. Pertanyaan kritis yang muncul selama proses terapi tidak hanya memperlambat proses terapi tetapi juga berpotensi menggagalkan terapi.

Lalu bagaimana untuk mencegah adanya resiko penyalah-gunaan terapi oleh terapis ?

Caranya mudah ! Cukup dengan niat, tetapkan diawal, apa yang menjadi tujuan Anda terapi, hal apa saja yang Anda ijinkan ataupun yang tidak Anda ijinkan dilakukan oleh terapis.

Misal : Tujuan saya terapi, hanya untuk menghilangkan hambatan pribadi seperti menyembuhkan fobia sosial saya, menyembuhkan insomnia saya, memprogram karir saya dsb. Penyalah-gunaan diluar yang saya ijinkan seperti gangguan pada keyakinan/agama, penipuan, pelecehan seksual dsb. tertolak dengan sendirinya.

Siapa yang mengalami juga ? KLIK > https://servoclinic.com/kesaksian/

Iklan

2 Responses to “Kerja-sama Terapis dan Klien ?”

  1. bambang Says:

    Saya seorang laki-laki berumur 47 tahun. Saya mengalami kecemasan bila ada gempa bumi, berada di ketinggian, ketika berdiri seperti mau jatuh, tidak percaya diri. Apakah saya harus datang di tempat praktik? Mohon diberikan info tentang biaya terapi. Terima kasih
    NB: saya berdomisili di Banjarnegara.

    • Servo Clinic Says:

      Terapi dapat dilakukan jarak jauh melalui telpon, Handphone, Yahoo Messenger (YM) ataupun Skype.

      Info lebih lanjut silahkan hubungi sekretariat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s