Gangguan Stres pada Survivor Kanker ?

05/05/2010

  

Studi baru menunjukkan orang orang yang berhasil sembuh (survivor) dari kanker mengalami kesulitan dalam mengatasi stres kronis setelah memenangkan pertarungan melawan kanker.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Jonsson Cancer Center, peneliti dan penulis Dr Margaret Stuber, profesor psikiatri dan ilmu biobehavioral, mengamati pada 6.542 pasien dewasa survivor kanker yang diderita sejak kanak-kanak.

Stuber menemukan bahwa subyek dari grup ini melaporkan bahwa mereka telah mengalami kecemasan ekstrem dan merasa seolah-olah terpinggirkan. Beberapa menyebutkan bahwa mereka menjadi mudah terkejut dan timbul fobia setelah perawatan. Mereka bahkan mulai menghindar hal-hal yang dapat memicu kenangan mereka terhadap kanker. Beberapa gejala sangat parah, survivor mengatakan, mereka tidak bisa berfungsi secara normal.

“Sama seperti orang lain yang mengalami gangguan stres pasca-trauma/post traumatic stress disorder (PTSD), anak survivor kanker, telah mengalami sebuah peristiwa yang membuat mereka merasa sangat takut, tak berdaya atau ngeri, “kata Stuber yang juga menunjukkan bahwa perawatan saat ini tidak sekeras jika dibandingkan dengan kelompok yang disurvei. Anak-anak yang didiagnosis dan dirawat di tahun-tahun terakhir, jauh lebih sedikit resiko terkena gangguan stres, namun masih beresiko.

(Kelompok yang diuji tersebut menjalani perawatan antara tahun 1970 dan 1986.)

Ia juga menemukan korelasi antara sifat agresif dari kanker dan beratnya stres pasca-trauma. Beberapa pasien yang hasil perawatannya meninggalkan cacat seperti kemandulan, gangguan kognitif dan pertumbuhan terhambat.

“Orang yang dirawat lebih intens, lebih cenderung memiliki gejala-gejala tersebut, karena mendapat perlakuan yang lebih traumatis,” kata Stuber. “Dan karena lebih banyak kerusakan dilakukan pada tubuh mereka, itu yang kemudian membuat lebih sulit memiliki kehidupan yang baik.”

Jika stres tidak ditangani secara benar dan dini, hal tersebut dapat menimbulkan efek negatif pada gaya hidup dan harga diri seseorang. “Mereka mungkin merasa seperti barang yang sudah tidak berguna,” kata Stuber.

Tekanan psikologis dapat menyebabkan kesulitan mengikuti kuliah atau mendapatkan pekerjaan bergaji. Survivor mungkin mengalami kesulitan memperoleh asuransi kesehatan, dapat ragu-ragu untuk menikah karena ia mungkin steril, atau menghindar memiliki anak-anak karena takut mewariskan gen kanker.

“Penelitian ini menunjukkan bahwa beberapa survivor dari perawatan kanker yang berhasil mengalami penderitaan bertahun-tahun. Pengembangan PTSD bisa sangat melumpuhkan para survivor kanker,” kata Stuber.

Walau informasi ini dapat menciutkan hati, kebenaran adalah ketika sesuatu diperlakukan dengan benar, PSTD dapat disembuhkan.

“Ini adalah sesuatu yang bisa disembuhkan dan bukan untuk mereka yang hanya tinggal diam,” kata Stuber.

Akhirnya, Studi Stuber menyimpulkan adanya kebutuhan untuk merawat para survivor kanker dengan perawatan dukungan dan perhatian seperti yang diperlukan untuk mengobati PTSD.

Ini akan menghindari atau mengurangi efek pukulan “batin” yang tertunda dari pengobatan.

Sumber : http://psychcentral.com/news/2010/05/03/cancer-survivors-likely-to-develop-post-traumatic-stress-disorder/13452.html

Ingin Bebas Stres Pasca Trauma ? KLIK > https://servoclinic.com/kesaksian/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s