Pintar tapi Tidak Bahagia ?

20/03/2013

Secara logika tidak seharusnya orang yang pintar, merasa tidak bahagia karena dengan kepintarannya yang bersangkutan tentu mampu menganalisa persoalan hidup dan menemukan solusinya.

Bahkan sering, kebahagiaan diidentikkan dengan pencapaian tertentu dibidang pekerjaan, misal jika telah menjadi seorang manajer, pimpinan perusahaan atau dibidang materi seperti jika telah memiliki mobil mewah, rumah bertingkat, dll.

Ironisnya, tidak jarang yang terjadi justru sebaliknya, kita lebih mudah menemukan senyuman bahagia di kalangan orang orang sederhana dibanding di kalangan orang berpendidikan ataupun orang-orang yang berada.

Kalaupun ada, kita sulit membedakan mana senyuman yang benar bahagia dan mana yang tidak, karena tertutup topeng kepura-puraan hasil rasionalisasi masalah.

Padahal perasaan bahagia bukanlah tentang sebuah peristiwa yang “akan” terjadi di depan, melainkan tentang bagaimana seseorang mempersepsikan peristiwa yang “sedang” dialami “sekarang”.

Dengan demikian, untuk dapat bahagia, kita tidak perlu menunggu sepuluh atau dua puluh tahun ke depan.

Lalu, dimana sesungguhnya letak kebahagiaan ?

Bagaimana jika dengan menjadikan diri Anda “berguna” bagi orang lain atau paling tidak bermanfaat bagi diri sendiri (baca : mandiri) dapat membuat diri Anda merasa bahagia, mau ?

Ingin merasa bahagia ? KLIK > https://servoclinic.com/kesaksian/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s