Penyebab Dispepsia ?

14/02/2016

Dispepsia dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain :

Gangguan pencernaan non-ulkus [ sunting ]

Pada sekitar 50-70% pasien yang mengalami dispepsia, tidak ada penyebab organik yang pasti dapat ditentukan. Dispepsia seperti ini biasa disebut sebagai non-ulkus dispepsia dan diagnosis ditegakkan dengan kehadiran epigastralgia selama minimal 6 bulan, dengan tidak adanya penyebab lain sebagai gejala.

Pasca-infeksi [ sunting ]

Gastroenteritis meningkatkan risiko berkembang menjadi dispepsia kronis. Dispepsia pasca infeksi adalah istilah yang diberikan ketika dispepsia terjadi setelah terinfeksi gastroenteritis akut. Hal ini diyakini bahwa penyebab dari pasca-infeksi IBS dan dispepsia pasca-infeksi mungkin mirip dan mewakili aspek yang berbeda dari patofisiologi yang sama. [9]

Fungsional [ sunting ]

Ini adalah penyebab paling umum dari dispepsia kronis. Setelah gejala mereka dievaluasi, hampir tiga perempat pasien tidak memiliki penyebab organik yang jelas. Kemungkinan gejala timbul akibat adanya interaksi yang kompleks dari peningkatan sensitivitas aferen yang mendalam, pengosongan lambung yang tertunda (gastroparesis)  atau gangguan akomodasi untuk makanan, atau stres psikososial. Meskipun tidak berbahaya, gejala-gejala ini bisa menjadi kronis dan sulit diobati.

Penyakit saluran pencernaan [ sunting ]

Ketika dispepsia dapat dihubungkan dengan penyebab tertentu, kebanyakan kasus berhubungan dengan penyakit gastroesophageal reflux (GERD) dan ulkus peptikum. Penyebab kurang lazim termasuk gastritis, kanker lambung, kanker esophagus, penyakit celiac, alergi makanan, penyakit radang usus, iskemia usus kronis dan gastroparesis.

Penyakit hati dan pankreas [ sunting ]

Ini termasuk cholelithiasis, pankreatitis kronis dan kanker pankreas.

Intoleransi makanan atau obat [ sunting ]

Dispepsia akut dapat disebabkan oleh makan berlebihan, makan terlalu cepat, makan makanan berkadar lemak tinggi, makan dalam situasi stres atau minum terlalu banyak alkohol atau kopi. Banyak obat yang dapat menyebabkan dispepsia, seperti aspirin, obat nonsteroidal anti-inflammatory (NSAID), antibiotik (metronidazolmakrolid), obat diabetes (metformin, Alpha-glucosidase inhibitor, analog amylin, GLP-1 reseptor antagonis), obat antihipertensi (angiotensin converting enzyme [ACE] inhibitor, angiotensin II antagonis reseptor) agen penurun kolesterol (niacin, fibrat), obat neuropsikiatri (cholinesterase inhibitor [donepezil, rivastigmine]), SSRI (fluoxetine, sertraline), serotonin-norepinefrin-reuptake inhibitor (venlafaxine, duloxetine), obat Parkinson (Dopamin agonis, monoamine oxidase [MAO] -B inhibitor), kortikosteroid, estrogen, digoxin, besi dan opioid . [10]

Infeksi Helicobacter pylori [ sunting ]

Pada dispepsia fungsional, peran Helicobacter pylori adalah kontroversial dan telah ditetapkan tidak memiliki hubungan sebab akibat yang jelas. Hal ini berlaku untuk kedua profil gejala dan patofisiologi dispepsia fungsional, meskipun beberapa studi epidemiologi menunjukkan adanya hubungan antara infeksi H. pylori dengan dispepsia fungsional. Perbedaan tsb. mungkin disebabkan oleh adanya perbedaan dalam metodologi dan kurang memadainya pertimbangan faktor pembaur seperti riwayat penyakit ulkus peptikum dan status sosial ekonomi di masa lalu. [11] Uji coba terkendali tentang apakah pemberantasan H. pylori bermanfaat atau tidak dalam dispepsia fungsional menunjukkan hasil kira-kira setengah dari percobaan terdapat perbaikan dan setengah lainnya tidak ada perbaikan. Dalam uji coba terbaru US multicenter yang dilakukan pengobatan atau plasebo secara acak pada 240 pasien dan dilakukan selama 12 bulan, 28% dari pasien yang diobati dibandingkan 23% dari mereka yang menerima plasebo, gejalanya dilaporkan hilang pada tindak lanjut selama 12 bulan. Demikian pula, uji Eropa baru-baru ini tidak menunjukkan perbedaan dalam gejala yang signifikan setelah dibandingkan antara pemberantasan H. pylori dengan kontrol. Tinjauan sistematis pemberantasan, telah dilakukan dengan hasil yang bervariasi. Sebuah tinjauan sistematis pada Annals of Internal Medicine menyimpulkan bahwa secara statistik tidak ada efek yang bermakna dari rasio odds (OR) antara keberhasilan pengobatan dibandingkan dengan kontrol 1,29 (95% CI, 0,89-1,89; P = 0,18). Tidak ada efek yang terlihat setelah disesuaikan untuk heterogenitas dan untuk mengatasi H. pylori. Sebaliknya, review Cochrane menemukan meskipun kecil tapi secara statistik signifikan dalam mengobati gejala (mengatasi H. pylori  vs plasebo, masing-masing 36% vs 30%,). [12] [13]

Penyakit sistemik [ sunting ]

Ada sejumlah penyakit sistemik yang mungkin melibatkan dispepsia, meliputi penyakit koroner, gagal jantung kongestif, diabetes mellitushiperparatiroidisme, penyakit tiroid, penyakit ginjal kronis dan kelelahan adrenal . [14]

Sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/Indigestion

Ingin pulih dispepsia ? KLIK > https://servoclinic.com/kesaksian/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s